Salah
satu isu yang sedang hangat dalam hubungan kerjasama regional antar negara di
Asia Tenggara saat ini adalah akan diberlakukannya ASEAN Community pada tahun
2015 yang akan datang. Sebagaimana kita ketahui bahwa Perhimpunan
Bangsa-bangsa Asia Tenggara (Perbara) atau lebih populer dengan
sebutan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN)
merupakan sebuah organisasi geo-politik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara, yang didirikan di Bangkok, 8 Agustus 1967
berdasarkan Deklarasi Bangkok
oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi, kemajuan sosial,
dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya, memajukan perdamaian dan
stabilitas di tingkat regionalnya, serta meningkatkan kesempatan untuk membahas
perbedaan di antara anggotanya dengan damai[1].
Seiring berjalannya waktu, banyak
dampak positif yang dirasakan oleh negara-negara anggota di ASEAN bahkan sampai
saat ini ada sebanyak 10 negara di Asia
Tenggara, dan dalam waktu yang tidak akan lama, akan disusul oleh negara Timor
Leste.[2]
Besarnya dampak yang dirasakan oleh semua anggota ASEAN, seperti kerjasama
regional yang semakin kuat dan saling mendukung antar negara, bahkan terkat
dengan tujuan ASEAN itu sendiri, maka muncullah sebuah gagasan tentanng
dibentuknya suatu kerjasama regional yang lebih intim bernama ASEAN Community
2015.
Bentuk ASEAN Community yang
dicita-citakan kali ini merupakan bentuk integrasi yang akan lebih kuat dari pada
bentuk ASEAN sebelumnya. Dimana di
dalam ASEAN Community sendiri, ada 3
pilar yang menjadi fokus dan sasaran dari ASEAN Community tersebut diantaranya,
ASEAN Political-Security
Community (APSC), ASEAN Economic Community (AEC), dan ASEAN Socio-Cultural
Community (ASCC).[3] Dengan kata
lain, ke-10 negara anggota ASEAN akan semakin terintegrasi dengan sangat erat
tanpa adanya tembok penghalang antar-negara lagi untuk kedepannya.
Maka dari itu saya akan melakukan
analisis mengenai kesiapan anggota-anggota negara di ASEAN sendiri akan diterapkannya ASEAN Community
2015 ditinjau dari pandangan Research
Method in Psychology.
1. Menggunakan
Data Qualitative
and Quantitative
Metode Kualitatif biasanya lebih
besifat deskriftif dan sifatnya subjektif[4]. Secara
kualitatif, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa ASEAN Community
memiliki dampak positif yang luar biasa. Jika kita perhatikan, satu-satunya
organisasi regional yang menjadi panutan dari ASEAN adalah European Union (EU). Dimana dalam kerjasama regional EU setiap
negara sudah melebur menjadi satu komunitas baru yang disebut Eropa. Ada satu
identitas baru dalam diri setiap warga Eropa. Mereka tidak hanya sampai pada
nasionalisme saja, tetapi sampai pada rasa regionalisme yang tinggi. Itulah
yang menjadi salah satu impian dari ASEAN Community. Para petinggi negara
memandang bahwa pengintegrasian ekonomi melalui AEC 2015 penting bagi
pertumbuhan ekonomi Asia khususnya ASEAN. Dengan sistem free
flow of goods, ASEAN, sebagai komunitas ekonomi
terintegrasi, dapat menjadi pasar penyedia faktor produksi bagi Negara di
seluruh dunia[5].
Akan kita temukan adanya pasar bebas, tidak ada lagi batasan kemana saja,
kerjasama keamanan, dan juga budaya yang menjadi miliki bersama antar negara
ASEAN tersebut. Hal ini akan terasa sangat menarik dan menyatukan antar negara
di ASEAN. Diharapkan nantinya setiap negara saling melengkapi kekurangan satu
dengan yang lainnya karena memang sumber daya yang dimiliki antar negara
berbeda-beda. Perdamaian dan ketenteraman niscaya akan tercipta jika integrasi
tersebut nanti benar-benar terlaksana dengan baik.
Data kuantitatif bersifat numerik,
seperti nilai pada tugas atau total yang dikumpulkan dari hasil eksperimen,
korelasi, kuesioner atau pengamatan menggunakan kategori perilaku. Sifatnya
biasanya lebih objektif karena sangat konkret dan jelas, bisa dipertanggung
jawabkan.[6]
Berdasarkan data kuantitatif, semua negara anggota ASEAN memang mendukung
terbentuknya ASEAN Community 2015 yang notabene berdampak besar bagi
negara-negara anggota tersebut.
Namun coba kita bandingkan kekayaan sumber
daya antar negara-negara ASEAN sendiri, sebagai berikut. Inilah perbandingan
GDP negara ASEAN + Timor Leste menurut IMF[7]
1. Indonesia 539,377 (millions of USD)
1. Indonesia 539,377 (millions of USD)
2.
Thailand 263,979
3.
Malaysia 192,955
4.
Singapura 182,231
5.
Filipina 161,196
6.
Vietnam 93,164
7.
Burma 34,262
8.
Kamboja 10,871
9.
Brunei 10,405
10.
Laos 5,598
11.
Timor Leste 556
Sedangkan
ini adalah perbandingan pendapatan per kapitanya {GDP(PPP) per kapita}
1. Singapura 57,238 International.$[8]
1. Singapura 57,238 International.$[8]
2.
Brunei 47,200
3.
Malaysia 14,603
4.
Thailand 8,643
5.
Indonesia 4,380
6.
Filipina 3,725
7.
Vietnam 3,123
8.
Timor Leste 2,663
9.
Laos 2,435
10.
Kamboja 2,086
11.
Burma 1,246
Apa yang dapat kita lihat dari
besarnya kekayaan antar negara tersebut bisa bersifat positif dan negatif.
Sekilas, bukankah sebagai negara terkaya seharusnya melakukan kerjasama dengan
negara yang kaya pula, jika melihat contoh Inggris yang tidak bergabung dengan
Uni-Eropa karena faktor kekayaan alam yang jauh lebih baik dari negara Eropa
lainnya. Hanya saja disayangkan, dalam pendapatan perkapita, Indonesia masih
jauh dibawah, sehingga membutuhkan negara-negara tersebut untuk berintegrasi
dengan sangat dekat.
Sedangkan jika kita menghitung
konflik yang terjadi antar negara ASEAN secara real sejak ASEAN terbentuk,
sangatlah banyak. Misalnya Kasus perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia,
Malaysia dengan Filiphina, Malaysia dengan Brunei Darusalam, Indonesia dengan
Filiphina, Konflik Kebudayaan, Laut Cina Selatan, dan masih banyak lagi.
2.
Metode
Eksperimental dan Pengamatan
Dengan
metode ini sebenarnya perlu dilakukan pengujian terhadap laboratorium dan
pengamatan yang langsung ke lapangan untuk menganalisis dan mengambil
kesimpulan akan layak atau tidaknya sesuatu objek dapat dikatakan baik atau
tidak[9].
Namun dalam hal ini, saya melakukan pengamatan dan eksperimen berdasarkan
tinjauan kepustakaan yang dapat saya analisis berdasarkan fakta-fakta dan
isu-isu kontemporer yang nyata di antara negara-negara ASEAN tersebut.
Ketika
bertemu di kampus dengan teman-teman yang berasal dari negara Malaysia,
Thailand, dan Vietnam, saya melihat bagaimana mereka bersosialisasi dan berbaur
dengan teman-teman yang berkebangsaan Indonesia asli. Saya merasa bahwa
diantara kami tidak memiliki perbedaan yang significant
antara satu dengan yang lainnya. Dari segi fisik, pemikiran, cara berbicara,
hampir semuaanya sama. Hanya bahasa dan gaya penampilannya saja yang memang
berbeda. Hampir di setiap kampus ternama di Indonesia menerima mahasiswa-mahasiswa
asing yang belajar di negara Indonesia. Selain itu, bidang kesehatan, militer,
dan lain-lain, sampai pada dunia musik pun sudah sering terjadi kerjasama antar
negara di ASEAN. Tak jarang penyanyi-penyanyi Indonesia mengadakan konser
tunggal di Malaysia, Singapura, demikian sebaliknya. Dengan demikian, integrasi
itu sebenarnya sudah terpupuk sejak lama dimana bentuk-bentuk kerjasama itu
sudah terjadi dan semuanya terjalin dengan baik.
Namun
sebaliknya jika dilihat bentuk-bentuk ketegangan yang pernah terjadi
antar-negara, sangatlah menghawatirkan untuk bentuk Integrasi yang lebih
serius. Tidak usah jauh-jauh, mari melihat ketegangan yang beberapa kali
terjadi antara negara Indonesia dengan Malaysia yang terjadi belum jauh ini. Yang
pertama, klaim Malaysia atas
budaya Indonesia seperti Reog, Tari Pendet, Batik, Rendang, Gong, Tari Serimpi,
Tari Saman, Masakan Padang, bahasa Melayu, Candi Borobudur, Rasa Sayange,
monyet, orangutan, telah menyebabkan ketidaksukaan warga Indonesia terhadap
Malaysia[10]. Kedua,
penyerobotan ribuan kilometer wilayah Indonesia di sepadan Sarawak dan Sabah
dengan Indonesia dengan praktek pembukaan perkebunan sawit dan perusahaan
timber yang menggeser batas patok wilayah Indonesia-Sabah dan Indonesia-Sarawak
yang dilakukan kerajaan Kuala Lumpur.[11]
Ketiga,
direbutnya Sipadan dan Ligitan dari Indonesia yang menimbulkan luka paling
dalam bangsa Indonesia.[12]
Ketegangan-ketegangan
yang terjadi antar Indonesia dengan Malaysia sering menjadi hal yang sensitif
antar warga negara keduanya. Banyak lecehan-lecehan dan ledekan-ledekan antar
warga negara terkait dengan apapun yang terjadi di negaranya. Tidak jarang juga
kita temukan akun-akun jejaring sosial dibuat untuk saling menjatuhkan antar
negara yang satu dengan yang lainnya. Jika dilihat dari sikap-sikap yang
demikian maka sangat wajar jika kita khawatir akan tercapainya Integrasi secara
khusus antar negara Indonesia dan Malaysia. Belum lagi, kasus Tenaga Kerja
Indonesia yang memicu banyak konflik di Malaysia sendiri.[13]
3.
Menggunakan
Metode Kolerasi dan Studi Kasus
Metode
kolerasi sering di-ilustrasikan dengan seorang bayi yang sedang menyusui yang
aman dengan ibunya sendiri, namun sebaliknya dia akan merasakan terusik ketika
adanya pihak asing yang menganggu kenyamanannya.[14]
Studi kasus sendiri sifatnya langsung pada orangnya dan biasanya dianalisis
dengan cara observasi yang mendalam terhadap kasus yang ditentukan.
Jika
kita mengampil implikasi dari sedikit defenisi tersebut diatas, maka kolerasi
yang dalam hal ini berupa kenyamanan, adalah bersifat internal dan eksternal.
Bersifat internal, adalah dimana kenyamanan dan keamanan itu sendiri berasal
dari komunitas ASEAN tersebut. Semua negara yang dilingkupi perdamaian dengan
dasar kesatuan dan integrasi tadi memiliki satu visi dan tujuan kedepannya.
Dimana konflik yang terkadang memang wajar untuk muncul, tidak lagi menjadi
penghalang untuk terciptanya integrasi yang diharapkan. Apalagi kalau konflik
tersbut berasal dari dalam komunitas ASEAN itu sendiri.
Kemudian
bersifat eksternal yaitu ketika terdapat intervensi dari luar ASEAN itu
sendiri. Hal ini yang sering terjadi dan tidak jarang memperpanjang konflik
yang terjadi antar beberapa negara. Apalagi terkait dengan meluasnya demokrasi,
isu global governance, Human Intervention, Responsibility to Protect (R2P),
yang memudahkan setiap masyarakat Internasional bebas melakukan hubungan tanpa
melaui pemerintahan untuk mencapai tujuannya masing-masing[15].
Maka dalam hal ini, setiap negara di ASEAN tersebut harus diikat dengan prinsip
dan pegangan yang kuat agar mampu berdiri kokoh ditengah-tengah banyaknya
pengaruh dari negara / pihak asing nantinya.
4.
Metode
Wawancara
Seperti kuesioner, maka wawancara
dapat menggunakan pertanyaan tertutup atau terbuka. Dimana kuisioner cenderung
digunakan untuk mengumpulkan banyak data kuantitatif dengan menggunakan
pertanyaan tertutup, yang relatif dapat diandalkan dan objektif, namun mungkin
tidak sangat valid jika mereka tidak menawarkan peserta respon yang tepat
mereka ingin memberikan. Wawancara dapat mengumpulkan lebih rinci, data
kualitatif dengan pertanyaan terbuka dan metode terstruktur.[16]
Dalam metode ini, saya melakukan wawancara terhadap dua orang mahasiwa
dari 2 negara yang berbeda, Indonesia dan Vietnam. Frans Resca, mahasiswa
Teknik Geologi Unpad. Ia mengatakan bahwa sebenarnya sudah saatnya terjadi
pemerataan antar negara-negara di ASEAN, maka perlu adanya ASEAN Community agar
masyarakat ASEAN lebih mandiri, status yang diakui, dan juga open minded tentang perkembangan yang sifatnya integrasi
dan mulai terbuka pada negara-negara sekitar. Selain itu, dengan terjalinnya
Integrasi maka akan memudahkan untuk melakukan aktivitas baik kesehatan,
pendidikan, dan lain-lain ke negara-negara ASEAN. Ia memang mengkhawatirkan
bahwa negara-negara ASEAN masih memiliki jiwa nasionalis yang tinggi dan akan
sulit pada tahap regionalist, tapi itu mungkin karena negara-negara ASEAN
tersebut dominan negara jajahan jadi sangat sensitif dengan hal-hal yang
sifatnya mengambil bagian dari negaranya. Pernyataan yang hampir serupa juga
dikatakan oleh Diana Mendoza, mahasiswa Politik Internasional, RMIT University, Vietnam. Dimana ia mengatakan akan sangat baik jika kerja sama ekonomi, keamanan
dan sosial budaya dilakukan dengan lebih dekat nantinya diantara negara-negara
ASEAN, untuk mampu berdiri kokoh menghadapi persaingan global.
Maka berdasarkan analisisis saya
menggunakan beberapa metode diatas, saya dapat menarik kesimpulan bahwa sudah
saatnya kerjasama regional berbentuk ASEAN Community tersebut diadakan di Asia
Tenggara. Memang, pada awalnya pasti
akan banyak mengalami pro-kontra dan pastinya belum semua masyarakat negara
siap untuk menjadi bagian dari komunitas tersebut. Akan tetapi, sadar atau tidak,
cepat atau lambat itu harus segera dilakukan dan itu sudah menjadi kebutuhan
kita untuk menghadapi persaingan global. Bukan berarti dengan terjadinya pasar
bebas kita akan dimonopoli dan kita menjadi miskin, namun sebaliknya, hal itu
akan membuat kita untuk memiliki jiwa kompetitif yang tinggi. Memiliki daya
saing yang tinggi, berorientasi prestasi akan membuat kita menjadi negara dan
komunitas ASEAN yang jaya dan mampu berdiri kokoh dalam menghadapi persaingan
global. Tidak akan ada lagi klaim budaya, tetapi yang ada adalah kebudayaan
yang semakin kaya karena kebuadayaan kita menjadi milik bersama yang bebas
dipakai dimana pun.
Dan pada akhirnya, dengan adanya
ASEAN Community, tidak akan ada lagi laut yang terlalu luas, hutan yang terlalu
lebat, gunung yang terlalu tinggi, serta pulau yang terlalu jauh, karena “tali integrasi”
ASEAN Community akan menjadi penyatu antar negara di ASEAN.
[1] Aris
Fourtofour. 2013. http://www.kumpulansejarah.com. Sejarah Berdiri Organisasi ASEAN.
Diakses pada Sabtu, 28 September 2013. Pukul 21.09 WIB
[2] Andreas Gerry Tuwo. 2013. http://international.okezone.com.
Jadi Anggota ASEAN Timor Leste Tinggal
Tunggu Waktu. Diakses pada Sabtu, 28 September 2013. Pukul 21:23 WIB
[3]
Ndherek Sayembara.
2013. http://www.sittirasuna.com. 'Headline' ASEAN Saat Ini: Tiga Pilar ASEAN Community 2015. Diakses
pada Minggu, 29 September 2013. Pukul 20.03 WIB
[4] Oxford University Press. 2010. Exploring Psychology Study and Revision Guide for AS Level AQA A.
Proof Copy. P.8
[5] Syaila Anya T. 2012. http://bem.feb.ugm.ac.id. Kesiapan Sumber Daya
Manusia Indonesia Menghadapi ASEAN Economic Community 2015. Diakses pada
Minggu, 29 September 2013. Pukul 08:21 WIB
[6] Oxford University Press. 2010. Exploring Psychology Study and Revision Guide for AS Level AQA A.
Proof Copy. P.11
[7] Malaysia
Forum. 2011. http://www.topix.com.
Inilah perbandingan kekayaan 10 anggota
negara ASEAN + Timor Leste. Diakses pada Minggu, 29 September 2013. Pukul
20:21 WIB
[8] ibid
[9] Oxford University Press. 2010. Exploring Psychology Study and Revision Guide for AS Level AQA A.
Proof Copy. P.12
[10] Ninoy Karundeng. 2013.
http://luar-negeri.kompasiana.com. Sabah
Picu Perang Indonesia Malaysia Masa-depan. Diakses pada Minggu, 29
September 2013. Pukul 20:45 WIB
[11] Ibid
[12] Ibid
[13] Ibid
[14] Oxford University Press. 2010. Exploring Psychology Study and Revision Guide for AS Level AQA A.
Proof Copy. P.24
[15] Kosmopolitanism dalam HI
[16] Oxford University
Press. 2010. Exploring Psychology Study
and Revision Guide for AS Level AQA A. Proof Copy. P.28
Tidak ada komentar:
Posting Komentar