Kamis, 10 Oktober 2013

Trans-modernisme solusi terhadap Modernisme dalam masalah Lingkungan Hidup?


Pemikiran manusia dari waktu ke waktu selalu mengarah pada terobosan-terobosan yang baru. Tidak jarang menuai perdebatan, kritik, atau mungkin solutif terhadap pemikiran-pemikiran sebelumnya. Seiring dengan berkembangnya pemikiran itu, berkembang pulalah aplikatif dari hasil pemikiran itu tadi. Kemajuan-kemajuan mulai muncul, dan seringkali kemajuan  yang ada menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri.
            Awal perkembangan modernisme
            Modernisme yang pertama kali berkembang di Barat, merupakan pandangan-pandangan yang dihasilkan oleh mereka yang mulai meninggalkan atau skeptis terhadap agama, kepercayaan, dan hal-hal yang bersifat ideal. Karena menurut kacamata manusia modern, segala sesuatu yang dapat diterima atau dijadikan sebagai kebenaran adalah segala sesuatu yang dapat dibuktikan, dirasionalisasikan atau dapat direduksi sehingga jelas dalam cara berpikir yang logis dan tidak semata-mata mengandalkan intuisi ataupun iman[1].
            Pada saat awal munculnya modernisme pada awal abad-16, banyak yang mengharapkan bahwa modernisme kelak menjadi “surga” bagi manusia, karena di era modern, rasio dan empiri memegang kedaulatan dalam dinamika hidup manusia telah berhasil menumpas mitologi-mitologi. Modernisme menjunjung tinggi kemampuan manusia sebagai sumber kekuatan- kekuatan yang ada.[2]
            Perubahan yang revolusioner pun terjadi saat modernisme mulai berkembang. Pada saat ini, walau tidak sepenuhnya menjadi atheis, namun modernisme menjadikan bahwa ajaran agama itu adalah urutan yang kesekian. Kedaulatan tertinggi itu ada ada manusia dan segala sesuatu itu ada dibawah kontrol manusia (humanisme).[3] Sekilas kalau dilihat, sama sekali tidak mengakui kedaulatan Tuhan. Modernisme selalu mengatas namakan kemajuan zaman sebagai pembenaran bahkan bagi segala suatu yang di vonis sebagai kebatilan dan kemunkaran oleh agama, tanpa melihat bahwa kemajuan yang dimaksud bisa jadi adalah sebuah kemunduran dari segi moralitas.
            Ketika pemikiran ini muncul, manusia mulai melakukan terobosan-terobosan berupa penemuan-penemuan baru yang gencar-gencaran. Ilmu pengetahuan mulai muncul di zaman modernisme. Teknologi-teknologi berupa penemuan canggih semakin pesat perkembangannya. Isu-isu humanisme semakin tinggi dimana “kemanusiaan (humanisme)” itu sangatlah ditinggikan. Kebebasan berpikir dan berkekspresi sangat ditinggikan. Inilah mengapa banyak terobosan yang revolusioner tercipta dalam era ini.
            Tidaklah mengherankan kalau pada saat modernisme muncul isu-su baru seperti isu tentang pengakuan atas pernikahan kaum homoseksual dan kaum lesbian. Mereka menuntut pengakuan terhadap mereka. Banyak juga yang beranggapan bahwa zamanlah yang mendorong itu semua dan itu layak untuk dilindungi dan bahkan diakui dengan pemberian status baru atas mereka.
            Selain itu, dengan munculnya berbagai penemuan-penemuan canggih, maka muncul pulalah kemajuan disegala bidang. Industri dan perusahaan-peruasaan yang menjamur dimana-mana. Peradaban manusia pun terus-menerus mengalami perubahan. Dari yang sebelumnya mencari nafkah dengan mengolah langsung hasil bumi dengan cara berladang, berlayar (nelayan), dan bentuk pekerjaan lain yang sifatnya mengambil hasil secara langsung sesuai yang sudah dihasilkan oleh alam, mulai berubah menjadi pekerja pertambangan, pegawai perusahaan, dan lain-lain.
            Kemajuan itu tidak berhenti begitu saja. Seiring dengan kemajuan itu, pertumbuhan manusia itu terus meningkat. Kebutuhan manusia juga pun terus semakin mengalami perubahan. Kebutuhan yang semakin beragam terus-menerus membuat manusia itu sendiri melakukan terobosan-terobosan yang selalu baru dalam teknologi mereka. Sehingga pengolahan terhadap kebutuhan tersebut pun harus terus-menerus diperluas.
            Contohnya dapat kita lihat dalam penggunaan media komunikasi. Sebelumnya media komunikasi bukanlah kebutuhan utama bagi setiap individu. Bahkan pemerintahan dalam suatu negara/kerajaan pun cukup menggunakan media surat-menyurat untuk dikirim ke pihak negara / kerajaan lain dan itu sangat memakan waktu yang sangat lama. Namun di zaman modernisme, media komunikasi merupakan salah satu kebutuhan yang sangat utama dalam diri setiap manusia.
            Sekilas tentang post-modernisme
            Pada zaman post-modernisme, mulai banyak kritikan-kritikan terhadap pemikiran manusia di tahap modernisme tadi. Modernisme yang sangat meninggikan humanisme dikritik habis-habisan oleh para pemikir post-modernisme.
            Postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas. Yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern seperti karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan impersonal dan rasionalitas.[4]
            Lalu, apakah Trans-modernisme merupakan solusi akhir dari modernisme?
            Walaupun pada perkembangannya, positivisme atau modernisme sudah ditinggalkan oleh negara-negara Barat, tetapi tetap menjadi suatu tolak ukur akan keberadaan postmodern. Masalah atau kiritik utama yang terjadi antara penganut modernisme dan postmodern sebenarnya berpangkal pada reifikasi yaitu revolusi industri yang terjadi telah menyebabkan revolusi sosial atau perubahan hubungan antara manusia, lebih spesifik antara kelas pekerja dan pemilik modal.
            Negara-negara Barat, dengan paham kapitalis-nya, yang meskipun cukup sukses memakmurkan penduduknya juga tidak luput dari kritik yang menyebabkan hadirnya sosialis, yaitu: yang kuat akan bertahan dan yang lemah akan tersingkir.
            Transmodern: Isu lingkungan menjadi salah satu yang patut dibicarakan
            Perkembangan itu akan terus berjalan. Banyak yang bisa saling kritik dan saling evaluasi. Akan tetapi, tidak akan ada yang mampu menghentikan pembaharuan. Manusia itu semakin hari semakin kreatif (jika kita melihat secara positif) atau dapat kita katakan bahwa seiring berjalannya waktu manusia itu tidak akan pernah cukup dalam mencari serta menemukan sesuatu yang baru.
            Sementara mereka yang masih sibuk dengan pemikiran-pemikiran beserta kritik terhadap zaman modernisme itu sendiri, paham baru yang kembali mengkritik keduanya pun muncul dengan gagasan barunya. Pemikiran/paham tersebut disebut dengan trans-modernisme. Trans-modernisme merupakan pengembangan dalam pemikiran dalam mengikuti periodisasi dari postmodernisme, sebagai sebuah gerakan, juga berkembang dari modernisme, dan, pada gilirannya, kritik modernitas dan postmodernitas, melihat mereka sebagai akhir dari modernisme.[5]
            Lingkungan hidup manusia itu pun akan menjadu objek yang akan dijamah oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan maupun mengimplementasikan pemikirannya. Bagaimana tidak, manusia selalu bertumbuh baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Pertumbugan penduduk yang semakin tinggi mengakibatkan peningkatan kebutuhan, peningkatan aktivitas, dan tentunya peningkatan dalam pemikiran.
            Maka di abad ini tidak heran kalau kita melihat pembangunan yang besar-besaran terjadi dimana-mana. Industri besar tersebar di kota-kota diseluruh dunia, perusahaan-perusahaan dan gedung-gedung mulai memadati kota-kota, pemukiman penduduk semakin luas, dan perlahan-lahan, hutan pun semakin menipis. Lingkungan tidak lagi bersahabat. Banjir musiman terus saja terjadi diberbagai negara. Kebakaran hutan, lapisan ozon yang semakin menipis, wabah penyakit yang terus-menerus menyebar, kemiskinan, dan banyak lagi dampaknya.
            Transmodernism menempatkan penekanan kuat pada xenophily dan globalisme , mempromosikan pentingnya budaya dan apresiasi budaya, melainkan berusaha untuk pandangan dunia untuk urusan budaya, dan anti- Eropa-sentris dan anti imperialis [6].
             Environmentalisme yang berkelanjutan dan ekologi merupakan aspek penting teori transmodern, tidak hanya transmodernism merangkul perlindungan lingkungan, namun juga menekankan pentingnya kehidupan lingkungan, membangun masyarakat serta ketertiban dan kebersihan. Ia menerima perubahan teknologi , namun hanya jika tujuannya adalah untuk meningkatkan kehidupan atau kondisi manusia. Aspek menonjol lain dari transmodernism adalah dari demokrasi dan mendengarkan miskin dan menderita.[7] Transmodernism juga mengambil posisi yang kuat pada feminisme , kesehatan , keluarga hidup dan hubungan, mempromosikan emansipasi wanita dan hak-hak perempuan , namun juga mempromosikan beberapa nilai keluarga tradisional moral dan etika, pentingnya keluarga terutama ditekankan.
            Salah satu isu yang paling disoroti dan dikembangkan dari paham modernisme adalah isu-isu lingkungan hidup yang berkelanjutan atau sering dibahas dalam paham enviromentalisme. Dalam paham ini dikatakan bahwa manusia itu sudah sampai pada tahap dimana lingkungan itu seolah tidak lagi bersahabat dan tidak lagi mendukung kelangsungan hidupnya.
            Sebagaimana kita ketahui bahwa industri-industri serta perusahaan-perusahaan yang memang berguna bagi kita secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup, ternyata haruslah kita kritisi sedemikian rupa. Enviromentalism menunjukkan suatu gerakan sosial yang bertujuan untuk memengaruhi proses politik dengan lobi, akivisme, dan pendidikan untuk melindungi sumber daya alam.[8]
            Enviromentalism bukan tidak mendukung bahwa pembangunan-pembangunan dalam lingkungan tersebut terus-menerus dilakukan. Enviromentalisme hanya melihat bahwasanya modernisme dan postmodernisme tadi itu memiliki dampak besar secara khusus terhadap lingkungan hidup, maka harus segera dilakukan tindakan untuk tetap menjaga ekosistem.
            Globalisasi bukanlah menjadi penghalang untuk menjaga lingkungan hidup, tetapi bagaimana kita bisa bertahan hidup dengan lingkungan yang mendukung kita untuk hidup dengan baik, itulah salah satu kajian dari enviromentalisme.
            Lalu apa yang dilakukan Enviromentalism?
            Banyak langkah yang dapat dilakukan untuk menjadi solusi dari kerusakan dan pencemaran dalam lingkungan kita. Diantaranya adalah penghijauan, pelestarian lingkungan hidup, penanaman kembali hutan gundul (reboisasi), dan lain-lain. Tidak heran kalau saat ini banyak komunitas-komunita pecinta alam mulai muncul dimana-mana.
            Untuk perlu ditekankan bahwa alam menyangkut daratan, air, dan udara. Jadi ketika aspek tersebut harus dijaga dan dilestarikan secara bersamaan. Dengan begitu, manusia dengan segala pemikiran-pemikiran modern-postmodernisme-nya pun akan selalu terjaga.
            Dalam kasus enviromentalisme tersebut diatas dapat saya simpulkan bahwa modernisme dan postmodernisme itu berujung pada suatu dampak yang “membidik” manusia it sendiri. Munculnya isu-isu lingkungan hidup, gender, HAM, dan masih banyak lagi, menjadi kritikan oleh para penganut pot-modernisme semata terhadap paham modernisme tersebut. Namun dalam hal inilah muncul trans-modernisme sebagai solusi dari berbagai dampak tersebut diatas. Baik modernisme, post-modernisme, maupun trans-modernisme menyadari bahwa globalisasi akan membawa manusia itu ke dalam suatu perubahan, secara khusus pemikiran dan tingkah laku manusia. Namun trans-modernisme berdiri sebagai paham yang mencoba berjalan berbarengan dengan globalisasi, tidak menolak globalisasi, namun menjadi solutif bagaimana bertahan hidup dalam berbagai kemajuan yang tanpa batas tersebut.


[1]http://www.ekaristi.org. Awal Modernisme. Dapat diakses pada Minggu, 6 November 2013.Pukul 21:23 WIB
[2] ibid
[3] Ahmad Suhelmi.2009. http://www.ut.ac.id. Modernisme dan Post-modernisme. Diakses pada Minggu, 6 Oktober 2013. Pukul 21:33 WIB
[4] Ramdi.2010. http://filsafat.kompasiana.com. Modernisme Sihir Akhir Zaman. Diakses pada Minggu, 6 Oktober 2013. Pukul 18:54 WIB.
[5] http://en.wikipedia.org. Modernism. Diakses pada Minggu, 6 Oktober 2010. Pukul 20:07 WIB
[6] Ibid
[7] Baia Mare, 9-12 December 2010. Knowledge and Action within the Knowledge Based Society. The modernism.p.67
[8] Farid Atmadiwirya. 2004. http://old-prasetya.ub.ac.id.  Presentasi Enviromentalism. Diakses pada Senin, 7 Oktober 2013. Pukul 19:46 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar