Pada saat ini, Indonesia
sedang memasuki tahun yang disebut-sebut
sebagai tahun politik. Dimana pada tahun ini Indonesia akan melakukan pesta
demokrasi yang dikenal dengan PEMILU untuk memilih pemerintah eksekutif dan
juga legislatif. Permasalahannya bukan tentang “siapa yang akan dipilih”. Akan
tetapi, “memilih atau tidak sama sekali?”.
Bagaimana tidak, masyarakat Indonesia walaupun tidak
sepenuhnya, hampir kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah yang duduk di kursi
pemerintahan. Antara kepemimpinan pemerintah A ke kepemimpinan pemerintah B,
tetap saja nasib rakyat tidak berubah. Kemiskinan masih ada dimana-mana,
pembangunan tidak merata, dan hampir semua aspek tidak berjalan dengan baik demi
kelangsungan hidup bernegara. Belum lagi, berbagai media baik cetak ataupun
elektronik, hampir setiap saat memberitakan tentang para pemimpin negara yang
melakukan korupsi sampai akhirnya mereka dikenai sanksi sebagaimana mestinya.
Banyak orang yang pesimis dengan masa depan Indonesia
yang lebih baik jika melihat kondisi kekinian Indonesia yang mana begitu
memprihatinkan. Para pakar/ahli menilai bahwa akar dari permasalahanya terletak
pada masalah pendidikan, ekonomi, agama, sosial budaya, ataupun politik yang mengalami
kesenjangan. Memang itu benar, namun menurut saya akar permasalahannya bukan
hanya menyangkut aspek-aspek tersebut, melainkan krisis moral yang terjadi
dalam diri setiap individu di Indonesia. Krisis moral itu diakibatkan karena
semakin banyak orang yang tidak berintegritas dalam menjalankan tugasnya.
Sebagai seorang mahasiswa yang duduk dibangku
perkuliahan, saya sama sekali tidak meragukan kecerdasan para kaum mahasiswa
untuk bersaing dan melanjutkan masa depan bangsa ini. Generasi muda di
Indonesia mampu bersaing dalam dunia Internasional termasuk dalam berbagai
lomba di berbagai bidang. Akan tetapi, mahasiswa di perkuliahan kebanyakan
tidak berintegritas dalam menjalankan perannya sebagai mahasiswa. Ini yang
kemudian mengakibatkan krisis moral dan menjadi kekhawatiran saya yang paling
besar terhadap masa depan bangsa. Masih banyak yang melakukan
kecurangan-kecurangan dalam dunia pendidikan, khususnya di dunia perkuliahan.
Cuci rapot demi masuk Perguruan Tinggi Negeri, mencontek/bekerja sama ketika
ulangan dikelas diadakan, titip absen, copy
paste tugas-tugas kuliah, dan beberapa kecurangan-kecurangan sejenisnya.
Mungkin bagi sebagian orang, hal-hal tersebut terkesan
sangat sepele dan tidak ada hubungannya terhadap masa depan bangsa. Lebih parah
lagi, kebanyakan generasi muda telah menganggap bahwa hal-hal tersebut
merupakan sesuatu hal yang lumrah atau sah-sah saja. Namun, saat kita
menganggap enteng masalah-masalah tersebut, saat itu pula krisis moral sedang
terjadi dalam diri kita. Sadar atau tidak, toleransi dengan
pelanggaran-pelanggaran yang kecil saat duduk dibangku sekolah/perkuliahan,
secara tidak langsung melatih diri kita untuk bertoleransi dengan kompromi-kompromi
yang mungkin dilakukan nanti ketika duduk di kursi pemerintahan. Karena generasi
muda yang sedang duduk di dunia pendidikan masa kinilah yang akan melanjutkan
roda pemerintahan dan menentukan nasib masa depan bangsa.
Belum lagi, saat ini kita diperhadapkan dengan suatu
jaman yang disebut postmodernisme. Dimana kebenaran itu tidak lagi mutlak,
tetapi relatif. Para pemuda cenderung menggunakan logika dan penalarannya dalam
menghadapi suatu permasalahan. Kebenaran-kebenaran mutlak seperti ajaran agama
dan sosial budaya, dilogikakan oleh setiap individu, sehingga kebenaran yang hakiki
itu pun pudar sturut dengan perkembangan jaman yang mengkontruksi pemahamanan
para kaum muda. Munculnya berbagai media Teknologi Informasi dan Komunikasi
yang semakin hari semakin canggih, semakin mendukung perkembangan era
postmodernisme tersebut. Ini akan berujung pada krisis moral ketika pondasi
setiap individu, khususnya para generasi muda tidaklah kuat.
Padahal, kalau kembali kita renungkan, Indonesia
merupakan salah satu negara yang sangat di anugerahi Tuhan dengan kekayaan dan
keindahan alam yang berlimpah di dalamnya, yang mana sangat berpotensi membuat
Indonesia menjadi sebuah bangsa yang sangat besar dan berjaya dimata dunia.
Namun ironinya, hal tersebut merupakan suatu fakta sekaligus pernyataan yang
pada saat ini hampir basi bagi
sebagian banyak orang di Indonesia.
Berbagai permasalahan di negara kita dengan gampang
membantah fakta “negara kaya raya tersebut”. Kita merupakan negara penghasil
emas terbesar di dunia yang berada di Timika, namun hampir 47 tahun wilayah itu
dieksploitasi oleh pihak asing. Pulau kita pun sudah diambil oleh negara
tetangga kita, dan kebudayaan warisan nenek moyang kita ada yang dirampas oleh
negara lain. Dan masih banyak hasil bumi di wilayah-wilayah perbatasan yang
dicuri oleh pihak asing dan negara kita tidak bisa berbuat banyak.
Namun dibalik berbagai permasalahan dari Sabang sampai
Merauke, negara kita masih “sibuk” dengan masalah korupsi di ibu kota. Maraknya
berita korupsi dan berbagai perdebatannya di berbagai media pun pada akhirnya
membuat kita sulit melihat kebenaran dari seorang pemimpin. Semua terlihat
sangat abu-abu dan semakin sulit untuk dipercaya. Hal ini kemudian berujung
pada skeptisme masyarakat terhadap PEMILU seperti yang sudah disebutkan diatas
karena masyarakat juga bisa menilai kepemimpinan antar pemerintah dan melihat
kenyataan yang ada.
Lalu bagaimana dengan tantangan bangsa di masa depan?
Siapa yang akan melanjutkan dan memperbaiki semua permasalahan yang ada?
Generasi muda adalah jawaban dari kekhawatiran tersebut. Baik atau buruknya
generasi muda saat ini, mereka adalah solusi dan harapan bangsa di masa depan.
Bukan tidak mungkin kita memperbaiki dan merubah banyak sistem yang sudah ada
yang mana dijalankan oleh para pemimpin dan pemangku kepentingan yang duduk
pada saat ini. Akan tetapi menurut saya kita harus menuntaskan permasalahan
dari akarnya. Ibarat sebuah tanaman yang sudah berumur, kita tidak bisa
mengharapkan buah yang segar dan banyak, kecuali menunggu dan merawat pohon
yang lebih muda dan harus merawatnya dengan baik. Demikian pula dengan generasi
muda yang harus dirawat dan terus dibekali dengan pendidikan moral/budi pakerti
seiringan dengan pembekalan dengan ilmu-ilmu yang mereka butuhkan.
Pemuda yang dibekali dengan ilmu pengetahuan yang tepat
dan juga budi pakerti yang baik, akan menghasilkan pemuda yang tangguh yang
bebas dari krisis moral. Pemuda yang berintegritas akan melakukan
tanggungjawabnya dengan baik dan tidak mau kompromi dengan
kecurangan-kecurangan yang ada. Dengan begitu, para pemuda tersebut akan
memiliki rasa percaya diri dan mental yang kuat pula. Selain mampu bersaing
dengan negara lain, mereka tentunya akan mampu berpikir lebih kritis dan
menolak bentuk-bentuk imperialisme modern yang masih terjadi di negara
Indonesia.
Saya percaya jika suatu saat nanti Indonesia memiliki
bukan hanya inteligensi yang tinggi, namun juga moral yang baik dan mental yang
kuat, perubahan yang revoluisoner pun akan serta-merta terwujud di negara ini. Memang
tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran perusahaan-perusahaan asing di indonesia memang
berdampak positif. Akan tetapi akan semakin banyak orang yang kritis dan
tanggap bahwa kita juga sedang dimonopoli oleh negara-negara lain. Harapannya,
tidak akan ada lagi impor beras, garam, kayu, dan lainnya yang mana negara kita
memiliki komoditas-komoditas tersebut. Tidak akan ada lagi pencurian minyak,
hasil tambang, emas, dan lainnya, karena kita sendiri yang akan mengolahnya
untuk keperluan negara kita. Tidak akan ada lagi pengklaiman pulau dan budaya
karena dengan berani kita akan melindunginya dengan jauh lebih baik.
Pemuda menjadi solusi yang sangat strategis dari
kecemasan akan masa depan bangsa Indonesia. Maka dari itu, pemuda hendaknya
terus-menerus membekali diri dengan baik. Mari meresponi perjuangan para pahlawan
bangsa kita di medan perang dengan membekali diri belajar dengan
sungguh-sungguh. Melatih diri untuk berintegritas dan tidak mau kompromi dengan
kecurangan-kecurangan sejak dini akan melatih mental kita pula untuk tidak mau
kompromi dengan kecurangan-kecurangan yang mungkin daat kita lakukan dibangku
pemerintahan kelak. Sampai akhirnya, muncullah bibit-bibit pemimpin bersih yang
baru yang mampu menghilangkan skeptisme masyarakat terhadap PEMILU dan tentunya
akan menjadi jaminan pada masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar