Pemikiran
manusia dari waktu ke waktu selalu mengarah pada terobosan-terobosan yang baru.
Tidak jarang menuai perdebatan, kritik, atau mungkin solutif terhadap
pemikiran-pemikiran sebelumnya. Seiring dengan berkembangnya pemikiran itu,
berkembang pulalah aplikatif dari hasil pemikiran itu tadi. Kemajuan-kemajuan
mulai muncul, dan seringkali kemajuan
yang ada menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri.
Awal
perkembangan modernisme
Modernisme yang pertama kali
berkembang di Barat, merupakan pandangan-pandangan yang dihasilkan oleh mereka
yang mulai meninggalkan atau skeptis terhadap agama, kepercayaan, dan hal-hal
yang bersifat ideal. Karena menurut kacamata manusia modern, segala sesuatu
yang dapat diterima atau dijadikan sebagai kebenaran adalah segala sesuatu yang
dapat dibuktikan, dirasionalisasikan atau dapat direduksi sehingga jelas dalam
cara berpikir yang logis dan tidak semata-mata mengandalkan intuisi ataupun
iman[1].
Pada saat awal munculnya modernisme
pada awal abad-16, banyak yang mengharapkan bahwa modernisme kelak menjadi
“surga” bagi manusia, karena di era modern, rasio dan empiri memegang
kedaulatan dalam dinamika hidup manusia telah berhasil menumpas
mitologi-mitologi. Modernisme menjunjung tinggi kemampuan manusia sebagai
sumber kekuatan- kekuatan yang ada.[2]
Perubahan yang revolusioner pun
terjadi saat modernisme mulai berkembang. Pada saat ini, walau tidak sepenuhnya
menjadi atheis, namun modernisme menjadikan bahwa ajaran agama itu adalah
urutan yang kesekian. Kedaulatan tertinggi itu ada ada manusia dan segala
sesuatu itu ada dibawah kontrol manusia (humanisme).[3]
Sekilas kalau dilihat, sama sekali tidak mengakui kedaulatan Tuhan. Modernisme selalu mengatas namakan kemajuan zaman sebagai
pembenaran bahkan bagi segala suatu yang di vonis sebagai kebatilan dan
kemunkaran oleh agama, tanpa melihat bahwa kemajuan yang dimaksud bisa jadi
adalah sebuah kemunduran dari segi moralitas.
Ketika pemikiran ini muncul,
manusia mulai melakukan terobosan-terobosan berupa penemuan-penemuan baru yang
gencar-gencaran. Ilmu
pengetahuan mulai muncul di zaman modernisme. Teknologi-teknologi berupa
penemuan canggih semakin pesat perkembangannya. Isu-isu humanisme semakin
tinggi dimana “kemanusiaan (humanisme)” itu sangatlah ditinggikan. Kebebasan
berpikir dan berkekspresi sangat ditinggikan. Inilah mengapa banyak terobosan yang
revolusioner tercipta dalam era ini.
Tidaklah
mengherankan kalau pada saat modernisme muncul isu-su baru seperti isu tentang
pengakuan atas pernikahan kaum homoseksual dan kaum lesbian. Mereka menuntut
pengakuan terhadap mereka. Banyak juga yang beranggapan bahwa zamanlah yang
mendorong itu semua dan itu layak untuk dilindungi dan bahkan diakui dengan
pemberian status baru atas mereka.
Selain
itu, dengan munculnya berbagai penemuan-penemuan canggih, maka muncul pulalah
kemajuan disegala bidang. Industri dan perusahaan-peruasaan yang menjamur
dimana-mana. Peradaban manusia pun terus-menerus mengalami perubahan. Dari yang
sebelumnya mencari nafkah dengan mengolah langsung hasil bumi dengan cara
berladang, berlayar (nelayan), dan bentuk pekerjaan lain yang sifatnya
mengambil hasil secara langsung sesuai yang sudah dihasilkan oleh alam, mulai
berubah menjadi pekerja pertambangan, pegawai perusahaan, dan lain-lain.
Kemajuan
itu tidak berhenti begitu saja. Seiring dengan kemajuan itu, pertumbuhan
manusia itu terus meningkat. Kebutuhan manusia juga pun terus semakin mengalami
perubahan. Kebutuhan yang semakin beragam terus-menerus membuat manusia itu
sendiri melakukan terobosan-terobosan yang selalu baru dalam teknologi mereka.
Sehingga pengolahan terhadap kebutuhan tersebut pun harus terus-menerus
diperluas.
Contohnya
dapat kita lihat dalam penggunaan media komunikasi. Sebelumnya media komunikasi
bukanlah kebutuhan utama bagi setiap individu. Bahkan pemerintahan dalam suatu
negara/kerajaan pun cukup menggunakan media surat-menyurat untuk dikirim ke
pihak negara / kerajaan lain dan itu sangat memakan waktu yang sangat lama.
Namun di zaman modernisme, media komunikasi merupakan salah satu kebutuhan yang
sangat utama dalam diri setiap manusia.
Sekilas
tentang post-modernisme
Pada zaman post-modernisme, mulai
banyak kritikan-kritikan terhadap pemikiran manusia di tahap modernisme tadi.
Modernisme yang sangat meninggikan humanisme dikritik habis-habisan oleh para
pemikir post-modernisme.
Postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya
memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu
yang diasosiasikan dengan modernitas. Yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban
Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa,
kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern
seperti karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal,
toleransi, humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi,
prosedur netral, peraturan impersonal dan rasionalitas.[4]
Lalu, apakah Trans-modernisme
merupakan solusi akhir dari modernisme?
Walaupun pada perkembangannya,
positivisme atau modernisme sudah ditinggalkan oleh negara-negara Barat, tetapi
tetap menjadi suatu tolak ukur akan keberadaan postmodern. Masalah atau kiritik
utama yang terjadi antara penganut modernisme dan postmodern sebenarnya
berpangkal pada reifikasi yaitu revolusi industri yang terjadi telah
menyebabkan revolusi sosial atau perubahan hubungan antara manusia, lebih
spesifik antara kelas pekerja dan pemilik modal.
Negara-negara Barat, dengan paham
kapitalis-nya, yang meskipun cukup sukses memakmurkan penduduknya juga tidak
luput dari kritik yang menyebabkan hadirnya sosialis, yaitu: yang kuat akan
bertahan dan yang lemah akan tersingkir.
Transmodern:
Isu lingkungan menjadi salah satu yang patut dibicarakan
Perkembangan itu akan terus
berjalan. Banyak yang bisa saling kritik dan saling evaluasi. Akan tetapi,
tidak akan ada yang mampu menghentikan pembaharuan. Manusia itu semakin hari
semakin kreatif (jika kita melihat secara positif) atau dapat kita katakan
bahwa seiring berjalannya waktu manusia itu tidak akan pernah cukup dalam
mencari serta menemukan sesuatu yang baru.
Sementara mereka yang masih sibuk
dengan pemikiran-pemikiran beserta kritik terhadap zaman modernisme itu
sendiri, paham baru yang kembali mengkritik keduanya pun muncul dengan gagasan
barunya. Pemikiran/paham tersebut disebut dengan trans-modernisme. Trans-modernisme
merupakan pengembangan dalam pemikiran dalam mengikuti periodisasi dari
postmodernisme, sebagai sebuah gerakan, juga berkembang dari modernisme, dan,
pada gilirannya, kritik modernitas dan postmodernitas, melihat mereka sebagai
akhir dari modernisme.[5]
Lingkungan hidup manusia itu pun
akan menjadu objek yang akan dijamah oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan
maupun mengimplementasikan pemikirannya. Bagaimana tidak, manusia selalu
bertumbuh baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Pertumbugan
penduduk yang semakin tinggi mengakibatkan peningkatan kebutuhan, peningkatan
aktivitas, dan tentunya peningkatan dalam pemikiran.
Maka di abad ini tidak heran kalau
kita melihat pembangunan yang besar-besaran terjadi dimana-mana. Industri besar
tersebar di kota-kota diseluruh dunia, perusahaan-perusahaan dan gedung-gedung
mulai memadati kota-kota, pemukiman penduduk semakin luas, dan perlahan-lahan,
hutan pun semakin menipis. Lingkungan tidak lagi bersahabat. Banjir musiman
terus saja terjadi diberbagai negara. Kebakaran hutan, lapisan ozon yang
semakin menipis, wabah penyakit yang terus-menerus menyebar, kemiskinan, dan
banyak lagi dampaknya.
Transmodernism
menempatkan penekanan kuat pada xenophily dan globalisme , mempromosikan pentingnya
budaya dan apresiasi budaya, melainkan berusaha untuk pandangan dunia untuk
urusan budaya, dan anti- Eropa-sentris dan anti imperialis [6].
Environmentalisme yang berkelanjutan dan ekologi merupakan aspek penting
teori transmodern, tidak hanya transmodernism merangkul perlindungan
lingkungan, namun juga menekankan pentingnya kehidupan lingkungan, membangun
masyarakat serta ketertiban dan kebersihan. Ia menerima perubahan teknologi , namun hanya jika tujuannya
adalah untuk meningkatkan kehidupan atau kondisi manusia. Aspek menonjol lain
dari transmodernism adalah dari demokrasi dan mendengarkan miskin dan menderita.[7] Transmodernism juga
mengambil posisi yang kuat pada feminisme , kesehatan , keluarga hidup dan hubungan, mempromosikan emansipasi wanita
dan hak-hak perempuan , namun juga mempromosikan
beberapa nilai keluarga tradisional moral dan etika, pentingnya keluarga
terutama ditekankan.
Salah satu isu yang paling disoroti
dan dikembangkan dari paham modernisme adalah isu-isu lingkungan hidup yang
berkelanjutan atau sering dibahas dalam paham enviromentalisme. Dalam paham ini
dikatakan bahwa manusia itu sudah sampai pada tahap dimana lingkungan itu
seolah tidak lagi bersahabat dan tidak lagi mendukung kelangsungan hidupnya.
Sebagaimana kita ketahui bahwa
industri-industri serta perusahaan-perusahaan yang memang berguna bagi kita
secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup, ternyata haruslah kita kritisi
sedemikian rupa. Enviromentalism menunjukkan suatu gerakan sosial yang
bertujuan untuk memengaruhi proses politik dengan lobi, akivisme, dan
pendidikan untuk melindungi sumber daya alam.[8]
Enviromentalism bukan tidak
mendukung bahwa pembangunan-pembangunan dalam lingkungan tersebut terus-menerus
dilakukan. Enviromentalisme hanya melihat bahwasanya modernisme dan
postmodernisme tadi itu memiliki dampak besar secara khusus terhadap lingkungan
hidup, maka harus segera dilakukan tindakan untuk tetap menjaga ekosistem.
Globalisasi bukanlah menjadi
penghalang untuk menjaga lingkungan hidup, tetapi bagaimana kita bisa bertahan
hidup dengan lingkungan yang mendukung kita untuk hidup dengan baik, itulah
salah satu kajian dari enviromentalisme.
Lalu
apa yang dilakukan Enviromentalism?
Banyak langkah yang dapat dilakukan
untuk menjadi solusi dari kerusakan dan pencemaran dalam lingkungan kita.
Diantaranya adalah penghijauan, pelestarian lingkungan hidup, penanaman kembali
hutan gundul (reboisasi), dan lain-lain. Tidak heran kalau saat ini banyak
komunitas-komunita pecinta alam mulai muncul dimana-mana.
Untuk perlu ditekankan bahwa alam
menyangkut daratan, air, dan udara. Jadi ketika aspek tersebut harus dijaga dan
dilestarikan secara bersamaan. Dengan begitu, manusia dengan segala pemikiran-pemikiran
modern-postmodernisme-nya pun akan selalu terjaga.
Dalam kasus enviromentalisme
tersebut diatas dapat saya simpulkan bahwa modernisme dan postmodernisme itu
berujung pada suatu dampak yang “membidik” manusia it sendiri. Munculnya isu-isu
lingkungan hidup, gender, HAM, dan masih banyak lagi, menjadi kritikan oleh
para penganut pot-modernisme semata terhadap paham modernisme tersebut. Namun
dalam hal inilah muncul trans-modernisme sebagai solusi dari berbagai dampak
tersebut diatas. Baik modernisme, post-modernisme, maupun trans-modernisme
menyadari bahwa globalisasi akan membawa manusia itu ke dalam suatu perubahan,
secara khusus pemikiran dan tingkah laku manusia. Namun trans-modernisme
berdiri sebagai paham yang mencoba berjalan berbarengan dengan globalisasi,
tidak menolak globalisasi, namun menjadi solutif bagaimana bertahan hidup dalam
berbagai kemajuan yang tanpa batas tersebut.
[1]http://www.ekaristi.org. Awal Modernisme. Dapat diakses pada Minggu, 6 November 2013.Pukul
21:23 WIB
[2] ibid
[3] Ahmad Suhelmi.2009.
http://www.ut.ac.id. Modernisme dan
Post-modernisme. Diakses pada Minggu, 6 Oktober 2013. Pukul 21:33 WIB
[4] Ramdi.2010.
http://filsafat.kompasiana.com. Modernisme
Sihir Akhir Zaman. Diakses pada Minggu, 6 Oktober 2013. Pukul 18:54 WIB.
[5] http://en.wikipedia.org. Modernism. Diakses pada Minggu, 6
Oktober 2010. Pukul 20:07 WIB
[6] Ibid
[7] Baia Mare, 9-12
December 2010. Knowledge and Action
within the Knowledge Based Society. The
modernism.p.67
[8] Farid Atmadiwirya. 2004. http://old-prasetya.ub.ac.id. Presentasi Enviromentalism. Diakses pada
Senin, 7 Oktober 2013. Pukul 19:46 WIB.