Kamis, 10 Oktober 2013

Trans-modernisme solusi terhadap Modernisme dalam masalah Lingkungan Hidup?


Pemikiran manusia dari waktu ke waktu selalu mengarah pada terobosan-terobosan yang baru. Tidak jarang menuai perdebatan, kritik, atau mungkin solutif terhadap pemikiran-pemikiran sebelumnya. Seiring dengan berkembangnya pemikiran itu, berkembang pulalah aplikatif dari hasil pemikiran itu tadi. Kemajuan-kemajuan mulai muncul, dan seringkali kemajuan  yang ada menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri.
            Awal perkembangan modernisme
            Modernisme yang pertama kali berkembang di Barat, merupakan pandangan-pandangan yang dihasilkan oleh mereka yang mulai meninggalkan atau skeptis terhadap agama, kepercayaan, dan hal-hal yang bersifat ideal. Karena menurut kacamata manusia modern, segala sesuatu yang dapat diterima atau dijadikan sebagai kebenaran adalah segala sesuatu yang dapat dibuktikan, dirasionalisasikan atau dapat direduksi sehingga jelas dalam cara berpikir yang logis dan tidak semata-mata mengandalkan intuisi ataupun iman[1].
            Pada saat awal munculnya modernisme pada awal abad-16, banyak yang mengharapkan bahwa modernisme kelak menjadi “surga” bagi manusia, karena di era modern, rasio dan empiri memegang kedaulatan dalam dinamika hidup manusia telah berhasil menumpas mitologi-mitologi. Modernisme menjunjung tinggi kemampuan manusia sebagai sumber kekuatan- kekuatan yang ada.[2]
            Perubahan yang revolusioner pun terjadi saat modernisme mulai berkembang. Pada saat ini, walau tidak sepenuhnya menjadi atheis, namun modernisme menjadikan bahwa ajaran agama itu adalah urutan yang kesekian. Kedaulatan tertinggi itu ada ada manusia dan segala sesuatu itu ada dibawah kontrol manusia (humanisme).[3] Sekilas kalau dilihat, sama sekali tidak mengakui kedaulatan Tuhan. Modernisme selalu mengatas namakan kemajuan zaman sebagai pembenaran bahkan bagi segala suatu yang di vonis sebagai kebatilan dan kemunkaran oleh agama, tanpa melihat bahwa kemajuan yang dimaksud bisa jadi adalah sebuah kemunduran dari segi moralitas.
            Ketika pemikiran ini muncul, manusia mulai melakukan terobosan-terobosan berupa penemuan-penemuan baru yang gencar-gencaran. Ilmu pengetahuan mulai muncul di zaman modernisme. Teknologi-teknologi berupa penemuan canggih semakin pesat perkembangannya. Isu-isu humanisme semakin tinggi dimana “kemanusiaan (humanisme)” itu sangatlah ditinggikan. Kebebasan berpikir dan berkekspresi sangat ditinggikan. Inilah mengapa banyak terobosan yang revolusioner tercipta dalam era ini.
            Tidaklah mengherankan kalau pada saat modernisme muncul isu-su baru seperti isu tentang pengakuan atas pernikahan kaum homoseksual dan kaum lesbian. Mereka menuntut pengakuan terhadap mereka. Banyak juga yang beranggapan bahwa zamanlah yang mendorong itu semua dan itu layak untuk dilindungi dan bahkan diakui dengan pemberian status baru atas mereka.
            Selain itu, dengan munculnya berbagai penemuan-penemuan canggih, maka muncul pulalah kemajuan disegala bidang. Industri dan perusahaan-peruasaan yang menjamur dimana-mana. Peradaban manusia pun terus-menerus mengalami perubahan. Dari yang sebelumnya mencari nafkah dengan mengolah langsung hasil bumi dengan cara berladang, berlayar (nelayan), dan bentuk pekerjaan lain yang sifatnya mengambil hasil secara langsung sesuai yang sudah dihasilkan oleh alam, mulai berubah menjadi pekerja pertambangan, pegawai perusahaan, dan lain-lain.
            Kemajuan itu tidak berhenti begitu saja. Seiring dengan kemajuan itu, pertumbuhan manusia itu terus meningkat. Kebutuhan manusia juga pun terus semakin mengalami perubahan. Kebutuhan yang semakin beragam terus-menerus membuat manusia itu sendiri melakukan terobosan-terobosan yang selalu baru dalam teknologi mereka. Sehingga pengolahan terhadap kebutuhan tersebut pun harus terus-menerus diperluas.
            Contohnya dapat kita lihat dalam penggunaan media komunikasi. Sebelumnya media komunikasi bukanlah kebutuhan utama bagi setiap individu. Bahkan pemerintahan dalam suatu negara/kerajaan pun cukup menggunakan media surat-menyurat untuk dikirim ke pihak negara / kerajaan lain dan itu sangat memakan waktu yang sangat lama. Namun di zaman modernisme, media komunikasi merupakan salah satu kebutuhan yang sangat utama dalam diri setiap manusia.
            Sekilas tentang post-modernisme
            Pada zaman post-modernisme, mulai banyak kritikan-kritikan terhadap pemikiran manusia di tahap modernisme tadi. Modernisme yang sangat meninggikan humanisme dikritik habis-habisan oleh para pemikir post-modernisme.
            Postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas. Yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern seperti karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan impersonal dan rasionalitas.[4]
            Lalu, apakah Trans-modernisme merupakan solusi akhir dari modernisme?
            Walaupun pada perkembangannya, positivisme atau modernisme sudah ditinggalkan oleh negara-negara Barat, tetapi tetap menjadi suatu tolak ukur akan keberadaan postmodern. Masalah atau kiritik utama yang terjadi antara penganut modernisme dan postmodern sebenarnya berpangkal pada reifikasi yaitu revolusi industri yang terjadi telah menyebabkan revolusi sosial atau perubahan hubungan antara manusia, lebih spesifik antara kelas pekerja dan pemilik modal.
            Negara-negara Barat, dengan paham kapitalis-nya, yang meskipun cukup sukses memakmurkan penduduknya juga tidak luput dari kritik yang menyebabkan hadirnya sosialis, yaitu: yang kuat akan bertahan dan yang lemah akan tersingkir.
            Transmodern: Isu lingkungan menjadi salah satu yang patut dibicarakan
            Perkembangan itu akan terus berjalan. Banyak yang bisa saling kritik dan saling evaluasi. Akan tetapi, tidak akan ada yang mampu menghentikan pembaharuan. Manusia itu semakin hari semakin kreatif (jika kita melihat secara positif) atau dapat kita katakan bahwa seiring berjalannya waktu manusia itu tidak akan pernah cukup dalam mencari serta menemukan sesuatu yang baru.
            Sementara mereka yang masih sibuk dengan pemikiran-pemikiran beserta kritik terhadap zaman modernisme itu sendiri, paham baru yang kembali mengkritik keduanya pun muncul dengan gagasan barunya. Pemikiran/paham tersebut disebut dengan trans-modernisme. Trans-modernisme merupakan pengembangan dalam pemikiran dalam mengikuti periodisasi dari postmodernisme, sebagai sebuah gerakan, juga berkembang dari modernisme, dan, pada gilirannya, kritik modernitas dan postmodernitas, melihat mereka sebagai akhir dari modernisme.[5]
            Lingkungan hidup manusia itu pun akan menjadu objek yang akan dijamah oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan maupun mengimplementasikan pemikirannya. Bagaimana tidak, manusia selalu bertumbuh baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Pertumbugan penduduk yang semakin tinggi mengakibatkan peningkatan kebutuhan, peningkatan aktivitas, dan tentunya peningkatan dalam pemikiran.
            Maka di abad ini tidak heran kalau kita melihat pembangunan yang besar-besaran terjadi dimana-mana. Industri besar tersebar di kota-kota diseluruh dunia, perusahaan-perusahaan dan gedung-gedung mulai memadati kota-kota, pemukiman penduduk semakin luas, dan perlahan-lahan, hutan pun semakin menipis. Lingkungan tidak lagi bersahabat. Banjir musiman terus saja terjadi diberbagai negara. Kebakaran hutan, lapisan ozon yang semakin menipis, wabah penyakit yang terus-menerus menyebar, kemiskinan, dan banyak lagi dampaknya.
            Transmodernism menempatkan penekanan kuat pada xenophily dan globalisme , mempromosikan pentingnya budaya dan apresiasi budaya, melainkan berusaha untuk pandangan dunia untuk urusan budaya, dan anti- Eropa-sentris dan anti imperialis [6].
             Environmentalisme yang berkelanjutan dan ekologi merupakan aspek penting teori transmodern, tidak hanya transmodernism merangkul perlindungan lingkungan, namun juga menekankan pentingnya kehidupan lingkungan, membangun masyarakat serta ketertiban dan kebersihan. Ia menerima perubahan teknologi , namun hanya jika tujuannya adalah untuk meningkatkan kehidupan atau kondisi manusia. Aspek menonjol lain dari transmodernism adalah dari demokrasi dan mendengarkan miskin dan menderita.[7] Transmodernism juga mengambil posisi yang kuat pada feminisme , kesehatan , keluarga hidup dan hubungan, mempromosikan emansipasi wanita dan hak-hak perempuan , namun juga mempromosikan beberapa nilai keluarga tradisional moral dan etika, pentingnya keluarga terutama ditekankan.
            Salah satu isu yang paling disoroti dan dikembangkan dari paham modernisme adalah isu-isu lingkungan hidup yang berkelanjutan atau sering dibahas dalam paham enviromentalisme. Dalam paham ini dikatakan bahwa manusia itu sudah sampai pada tahap dimana lingkungan itu seolah tidak lagi bersahabat dan tidak lagi mendukung kelangsungan hidupnya.
            Sebagaimana kita ketahui bahwa industri-industri serta perusahaan-perusahaan yang memang berguna bagi kita secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup, ternyata haruslah kita kritisi sedemikian rupa. Enviromentalism menunjukkan suatu gerakan sosial yang bertujuan untuk memengaruhi proses politik dengan lobi, akivisme, dan pendidikan untuk melindungi sumber daya alam.[8]
            Enviromentalism bukan tidak mendukung bahwa pembangunan-pembangunan dalam lingkungan tersebut terus-menerus dilakukan. Enviromentalisme hanya melihat bahwasanya modernisme dan postmodernisme tadi itu memiliki dampak besar secara khusus terhadap lingkungan hidup, maka harus segera dilakukan tindakan untuk tetap menjaga ekosistem.
            Globalisasi bukanlah menjadi penghalang untuk menjaga lingkungan hidup, tetapi bagaimana kita bisa bertahan hidup dengan lingkungan yang mendukung kita untuk hidup dengan baik, itulah salah satu kajian dari enviromentalisme.
            Lalu apa yang dilakukan Enviromentalism?
            Banyak langkah yang dapat dilakukan untuk menjadi solusi dari kerusakan dan pencemaran dalam lingkungan kita. Diantaranya adalah penghijauan, pelestarian lingkungan hidup, penanaman kembali hutan gundul (reboisasi), dan lain-lain. Tidak heran kalau saat ini banyak komunitas-komunita pecinta alam mulai muncul dimana-mana.
            Untuk perlu ditekankan bahwa alam menyangkut daratan, air, dan udara. Jadi ketika aspek tersebut harus dijaga dan dilestarikan secara bersamaan. Dengan begitu, manusia dengan segala pemikiran-pemikiran modern-postmodernisme-nya pun akan selalu terjaga.
            Dalam kasus enviromentalisme tersebut diatas dapat saya simpulkan bahwa modernisme dan postmodernisme itu berujung pada suatu dampak yang “membidik” manusia it sendiri. Munculnya isu-isu lingkungan hidup, gender, HAM, dan masih banyak lagi, menjadi kritikan oleh para penganut pot-modernisme semata terhadap paham modernisme tersebut. Namun dalam hal inilah muncul trans-modernisme sebagai solusi dari berbagai dampak tersebut diatas. Baik modernisme, post-modernisme, maupun trans-modernisme menyadari bahwa globalisasi akan membawa manusia itu ke dalam suatu perubahan, secara khusus pemikiran dan tingkah laku manusia. Namun trans-modernisme berdiri sebagai paham yang mencoba berjalan berbarengan dengan globalisasi, tidak menolak globalisasi, namun menjadi solutif bagaimana bertahan hidup dalam berbagai kemajuan yang tanpa batas tersebut.


[1]http://www.ekaristi.org. Awal Modernisme. Dapat diakses pada Minggu, 6 November 2013.Pukul 21:23 WIB
[2] ibid
[3] Ahmad Suhelmi.2009. http://www.ut.ac.id. Modernisme dan Post-modernisme. Diakses pada Minggu, 6 Oktober 2013. Pukul 21:33 WIB
[4] Ramdi.2010. http://filsafat.kompasiana.com. Modernisme Sihir Akhir Zaman. Diakses pada Minggu, 6 Oktober 2013. Pukul 18:54 WIB.
[5] http://en.wikipedia.org. Modernism. Diakses pada Minggu, 6 Oktober 2010. Pukul 20:07 WIB
[6] Ibid
[7] Baia Mare, 9-12 December 2010. Knowledge and Action within the Knowledge Based Society. The modernism.p.67
[8] Farid Atmadiwirya. 2004. http://old-prasetya.ub.ac.id.  Presentasi Enviromentalism. Diakses pada Senin, 7 Oktober 2013. Pukul 19:46 WIB.

Melihat “Kesiapan” negara ASEAN akan diterapkannya ASEAN Community 2015 ditinjau dari pandangan Research Method in Psychology.

             Salah satu isu yang sedang hangat dalam hubungan kerjasama regional antar negara di Asia Tenggara saat ini adalah akan diberlakukannya ASEAN Community pada tahun 2015 yang akan datang. Sebagaimana kita ketahui bahwa Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (Perbara) atau lebih populer dengan sebutan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) merupakan sebuah organisasi geo-politik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara, yang didirikan di Bangkok, 8 Agustus 1967 berdasarkan Deklarasi Bangkok oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya, memajukan perdamaian dan stabilitas di tingkat regionalnya, serta meningkatkan kesempatan untuk membahas perbedaan di antara anggotanya dengan damai[1].
            Seiring berjalannya waktu, banyak dampak positif yang dirasakan oleh negara-negara anggota di ASEAN bahkan sampai saat ini ada sebanyak  10 negara di Asia Tenggara, dan dalam waktu yang tidak akan lama, akan disusul oleh negara Timor Leste.[2] Besarnya dampak yang dirasakan oleh semua anggota ASEAN, seperti kerjasama regional yang semakin kuat dan saling mendukung antar negara, bahkan terkat dengan tujuan ASEAN itu sendiri, maka muncullah sebuah gagasan tentanng dibentuknya suatu kerjasama regional yang lebih intim bernama ASEAN Community 2015.
            Bentuk ASEAN Community yang dicita-citakan kali ini merupakan bentuk integrasi yang akan lebih kuat dari pada bentuk ASEAN sebelumnya. Dimana di dalam ASEAN Community sendiri, ada 3 pilar yang menjadi fokus dan sasaran dari ASEAN Community tersebut diantaranya, ASEAN Political-Security Community (APSC), ASEAN Economic Community (AEC), dan ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC).[3] Dengan kata lain, ke-10 negara anggota ASEAN akan semakin terintegrasi dengan sangat erat tanpa adanya tembok penghalang antar-negara lagi untuk kedepannya.
            Maka dari itu saya akan melakukan analisis mengenai kesiapan anggota-anggota negara di ASEAN sendiri akan diterapkannya ASEAN Community 2015 ditinjau dari pandangan Research Method in Psychology.
1.      Menggunakan Data Qualitative and Quantitative
            Metode Kualitatif biasanya lebih besifat deskriftif dan sifatnya subjektif[4]. Secara kualitatif, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa ASEAN Community memiliki dampak positif yang luar biasa. Jika kita perhatikan, satu-satunya organisasi regional yang menjadi panutan dari ASEAN adalah European Union (EU). Dimana dalam kerjasama regional EU setiap negara sudah melebur menjadi satu komunitas baru yang disebut Eropa. Ada satu identitas baru dalam diri setiap warga Eropa. Mereka tidak hanya sampai pada nasionalisme saja, tetapi sampai pada rasa regionalisme yang tinggi. Itulah yang menjadi salah satu impian dari ASEAN Community. Para petinggi negara memandang bahwa pengintegrasian ekonomi melalui AEC 2015 penting bagi pertumbuhan ekonomi Asia khususnya ASEAN. Dengan sistem free flow of goods, ASEAN, sebagai komunitas ekonomi terintegrasi, dapat menjadi pasar penyedia faktor produksi bagi Negara di seluruh dunia[5]. Akan kita temukan adanya pasar bebas, tidak ada lagi batasan kemana saja, kerjasama keamanan, dan juga budaya yang menjadi miliki bersama antar negara ASEAN tersebut. Hal ini akan terasa sangat menarik dan menyatukan antar negara di ASEAN. Diharapkan nantinya setiap negara saling melengkapi kekurangan satu dengan yang lainnya karena memang sumber daya yang dimiliki antar negara berbeda-beda. Perdamaian dan ketenteraman niscaya akan tercipta jika integrasi tersebut nanti benar-benar terlaksana dengan baik.
            Data kuantitatif bersifat numerik, seperti nilai pada tugas atau total yang dikumpulkan dari hasil eksperimen, korelasi, kuesioner atau pengamatan menggunakan kategori perilaku. Sifatnya biasanya lebih objektif karena sangat konkret dan jelas, bisa dipertanggung jawabkan.[6] Berdasarkan data kuantitatif, semua negara anggota ASEAN memang mendukung terbentuknya ASEAN Community 2015 yang notabene berdampak besar bagi negara-negara anggota tersebut.
            Namun coba kita bandingkan kekayaan sumber daya antar negara-negara ASEAN sendiri, sebagai berikut. Inilah perbandingan GDP negara ASEAN + Timor Leste menurut IMF[7]
1. Indonesia 539,377 (millions of USD)
2. Thailand 263,979
3. Malaysia 192,955
4. Singapura 182,231
5. Filipina 161,196
6. Vietnam 93,164
7. Burma 34,262
8. Kamboja 10,871
9. Brunei 10,405
10. Laos 5,598
11. Timor Leste 556
Sedangkan ini adalah perbandingan pendapatan per kapitanya {GDP(PPP) per kapita}
1. Singapura 57,238 International.$[8]
2. Brunei 47,200
3. Malaysia 14,603
4. Thailand 8,643
5. Indonesia 4,380
6. Filipina 3,725
7. Vietnam 3,123
8. Timor Leste 2,663
9. Laos 2,435
10. Kamboja 2,086
11. Burma 1,246
            Apa yang dapat kita lihat dari besarnya kekayaan antar negara tersebut bisa bersifat positif dan negatif. Sekilas, bukankah sebagai negara terkaya seharusnya melakukan kerjasama dengan negara yang kaya pula, jika melihat contoh Inggris yang tidak bergabung dengan Uni-Eropa karena faktor kekayaan alam yang jauh lebih baik dari negara Eropa lainnya. Hanya saja disayangkan, dalam pendapatan perkapita, Indonesia masih jauh dibawah, sehingga membutuhkan negara-negara tersebut untuk berintegrasi dengan sangat dekat.
            Sedangkan jika kita menghitung konflik yang terjadi antar negara ASEAN secara real sejak ASEAN terbentuk, sangatlah banyak. Misalnya Kasus perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia, Malaysia dengan Filiphina, Malaysia dengan Brunei Darusalam, Indonesia dengan Filiphina, Konflik Kebudayaan, Laut Cina Selatan, dan masih banyak lagi.
2.      Metode Eksperimental dan Pengamatan
            Dengan metode ini sebenarnya perlu dilakukan pengujian terhadap laboratorium dan pengamatan yang langsung ke lapangan untuk menganalisis dan mengambil kesimpulan akan layak atau tidaknya sesuatu objek dapat dikatakan baik atau tidak[9]. Namun dalam hal ini, saya melakukan pengamatan dan eksperimen berdasarkan tinjauan kepustakaan yang dapat saya analisis berdasarkan fakta-fakta dan isu-isu kontemporer yang nyata di antara negara-negara ASEAN tersebut.
            Ketika bertemu di kampus dengan teman-teman yang berasal dari negara Malaysia, Thailand, dan Vietnam, saya melihat bagaimana mereka bersosialisasi dan berbaur dengan teman-teman yang berkebangsaan Indonesia asli. Saya merasa bahwa diantara kami tidak memiliki perbedaan yang significant antara satu dengan yang lainnya. Dari segi fisik, pemikiran, cara berbicara, hampir semuaanya sama. Hanya bahasa dan gaya penampilannya saja yang memang berbeda. Hampir di setiap kampus ternama di Indonesia menerima mahasiswa-mahasiswa asing yang belajar di negara Indonesia. Selain itu, bidang kesehatan, militer, dan lain-lain, sampai pada dunia musik pun sudah sering terjadi kerjasama antar negara di ASEAN. Tak jarang penyanyi-penyanyi Indonesia mengadakan konser tunggal di Malaysia, Singapura, demikian sebaliknya. Dengan demikian, integrasi itu sebenarnya sudah terpupuk sejak lama dimana bentuk-bentuk kerjasama itu sudah terjadi dan semuanya terjalin dengan baik.
            Namun sebaliknya jika dilihat bentuk-bentuk ketegangan yang pernah terjadi antar-negara, sangatlah menghawatirkan untuk bentuk Integrasi yang lebih serius. Tidak usah jauh-jauh, mari melihat ketegangan yang beberapa kali terjadi antara negara Indonesia dengan Malaysia yang terjadi belum jauh ini. Yang pertama,  klaim Malaysia atas budaya Indonesia seperti Reog, Tari Pendet, Batik, Rendang, Gong, Tari Serimpi, Tari Saman, Masakan Padang, bahasa Melayu, Candi Borobudur, Rasa Sayange, monyet, orangutan, telah menyebabkan ketidaksukaan warga Indonesia terhadap Malaysia[10]. Kedua, penyerobotan ribuan kilometer wilayah Indonesia di sepadan Sarawak dan Sabah dengan Indonesia dengan praktek pembukaan perkebunan sawit dan perusahaan timber yang menggeser batas patok wilayah Indonesia-Sabah dan Indonesia-Sarawak yang dilakukan kerajaan Kuala Lumpur.[11] Ketiga, direbutnya Sipadan dan Ligitan dari Indonesia yang menimbulkan luka paling dalam bangsa Indonesia.[12]
            Ketegangan-ketegangan yang terjadi antar Indonesia dengan Malaysia sering menjadi hal yang sensitif antar warga negara keduanya. Banyak lecehan-lecehan dan ledekan-ledekan antar warga negara terkait dengan apapun yang terjadi di negaranya. Tidak jarang juga kita temukan akun-akun jejaring sosial dibuat untuk saling menjatuhkan antar negara yang satu dengan yang lainnya. Jika dilihat dari sikap-sikap yang demikian maka sangat wajar jika kita khawatir akan tercapainya Integrasi secara khusus antar negara Indonesia dan Malaysia. Belum lagi, kasus Tenaga Kerja Indonesia yang memicu banyak konflik di Malaysia sendiri.[13]
3.      Menggunakan Metode Kolerasi dan Studi Kasus
            Metode kolerasi sering di-ilustrasikan dengan seorang bayi yang sedang menyusui yang aman dengan ibunya sendiri, namun sebaliknya dia akan merasakan terusik ketika adanya pihak asing yang menganggu kenyamanannya.[14] Studi kasus sendiri sifatnya langsung pada orangnya dan biasanya dianalisis dengan cara observasi yang mendalam terhadap kasus yang ditentukan.
            Jika kita mengampil implikasi dari sedikit defenisi tersebut diatas, maka kolerasi yang dalam hal ini berupa kenyamanan, adalah bersifat internal dan eksternal. Bersifat internal, adalah dimana kenyamanan dan keamanan itu sendiri berasal dari komunitas ASEAN tersebut. Semua negara yang dilingkupi perdamaian dengan dasar kesatuan dan integrasi tadi memiliki satu visi dan tujuan kedepannya. Dimana konflik yang terkadang memang wajar untuk muncul, tidak lagi menjadi penghalang untuk terciptanya integrasi yang diharapkan. Apalagi kalau konflik tersbut berasal dari dalam komunitas ASEAN itu sendiri.
            Kemudian bersifat eksternal yaitu ketika terdapat intervensi dari luar ASEAN itu sendiri. Hal ini yang sering terjadi dan tidak jarang memperpanjang konflik yang terjadi antar beberapa negara. Apalagi terkait dengan meluasnya demokrasi, isu global governance, Human Intervention, Responsibility to Protect (R2P), yang memudahkan setiap masyarakat Internasional bebas melakukan hubungan tanpa melaui pemerintahan untuk mencapai tujuannya masing-masing[15]. Maka dalam hal ini, setiap negara di ASEAN tersebut harus diikat dengan prinsip dan pegangan yang kuat agar mampu berdiri kokoh ditengah-tengah banyaknya pengaruh dari negara / pihak asing nantinya.

4.      Metode Wawancara
            Seperti kuesioner, maka wawancara dapat menggunakan pertanyaan tertutup atau terbuka. Dimana kuisioner cenderung digunakan untuk mengumpulkan banyak data kuantitatif dengan menggunakan pertanyaan tertutup, yang relatif dapat diandalkan dan objektif, namun mungkin tidak sangat valid jika mereka tidak menawarkan peserta respon yang tepat mereka ingin memberikan. Wawancara dapat mengumpulkan lebih rinci, data kualitatif dengan pertanyaan terbuka dan metode terstruktur.[16]

            Dalam metode ini, saya melakukan wawancara terhadap dua orang mahasiwa dari 2 negara yang berbeda, Indonesia dan Vietnam. Frans Resca, mahasiswa Teknik Geologi Unpad. Ia mengatakan bahwa sebenarnya sudah saatnya terjadi pemerataan antar negara-negara di ASEAN, maka perlu adanya ASEAN Community agar masyarakat ASEAN lebih mandiri, status yang diakui, dan juga open minded  tentang perkembangan yang sifatnya integrasi dan mulai terbuka pada negara-negara sekitar. Selain itu, dengan terjalinnya Integrasi maka akan memudahkan untuk melakukan aktivitas baik kesehatan, pendidikan, dan lain-lain ke negara-negara ASEAN. Ia memang mengkhawatirkan bahwa negara-negara ASEAN masih memiliki jiwa nasionalis yang tinggi dan akan sulit pada tahap regionalist, tapi itu mungkin karena negara-negara ASEAN tersebut dominan negara jajahan jadi sangat sensitif dengan hal-hal yang sifatnya mengambil bagian dari negaranya. Pernyataan yang hampir serupa juga dikatakan oleh Diana Mendoza, mahasiswa Politik Internasional, RMIT University, Vietnam. Dimana ia mengatakan akan sangat baik jika kerja sama ekonomi, keamanan dan sosial budaya dilakukan dengan lebih dekat nantinya diantara negara-negara ASEAN, untuk mampu berdiri kokoh menghadapi persaingan global.

            Maka berdasarkan analisisis saya menggunakan beberapa metode diatas, saya dapat menarik kesimpulan bahwa sudah saatnya kerjasama regional berbentuk ASEAN Community tersebut diadakan di Asia Tenggara. Memang,  pada awalnya pasti akan banyak mengalami pro-kontra dan pastinya belum semua masyarakat negara siap untuk menjadi bagian dari komunitas tersebut. Akan tetapi, sadar atau tidak, cepat atau lambat itu harus segera dilakukan dan itu sudah menjadi kebutuhan kita untuk menghadapi persaingan global. Bukan berarti dengan terjadinya pasar bebas kita akan dimonopoli dan kita menjadi miskin, namun sebaliknya, hal itu akan membuat kita untuk memiliki jiwa kompetitif yang tinggi. Memiliki daya saing yang tinggi, berorientasi prestasi akan membuat kita menjadi negara dan komunitas ASEAN yang jaya dan mampu berdiri kokoh dalam menghadapi persaingan global. Tidak akan ada lagi klaim budaya, tetapi yang ada adalah kebudayaan yang semakin kaya karena kebuadayaan kita menjadi milik bersama yang bebas dipakai dimana pun.

            Dan pada akhirnya, dengan adanya ASEAN Community, tidak akan ada lagi laut yang terlalu luas, hutan yang terlalu lebat, gunung yang terlalu tinggi, serta pulau yang terlalu jauh, karena “tali integrasi” ASEAN Community akan menjadi penyatu antar negara di ASEAN.





[1] Aris Fourtofour. 2013. http://www.kumpulansejarah.com. Sejarah Berdiri Organisasi ASEAN. Diakses pada Sabtu, 28 September 2013. Pukul 21.09 WIB
[2] Andreas Gerry Tuwo. 2013. http://international.okezone.com. Jadi Anggota ASEAN Timor Leste Tinggal Tunggu Waktu. Diakses pada Sabtu, 28 September 2013. Pukul 21:23 WIB

[3] Ndherek Sayembara. 2013. http://www.sittirasuna.com. 'Headline' ASEAN Saat Ini: Tiga Pilar ASEAN Community 2015. Diakses pada Minggu, 29 September 2013. Pukul 20.03 WIB


[4] Oxford University Press. 2010. Exploring Psychology Study and Revision Guide for AS Level AQA A. Proof Copy. P.8
[5] Syaila Anya T. 2012. http://bem.feb.ugm.ac.id. Kesiapan Sumber Daya Manusia Indonesia Menghadapi ASEAN Economic Community 2015. Diakses pada Minggu, 29 September 2013. Pukul 08:21 WIB
[6] Oxford University Press. 2010. Exploring Psychology Study and Revision Guide for AS Level AQA A. Proof Copy. P.11
[7] Malaysia Forum. 2011. http://www.topix.com. Inilah perbandingan kekayaan 10 anggota negara ASEAN + Timor Leste. Diakses pada Minggu, 29 September 2013. Pukul 20:21 WIB
[8] ibid
[9] Oxford University Press. 2010. Exploring Psychology Study and Revision Guide for AS Level AQA A. Proof Copy. P.12
[10] Ninoy Karundeng. 2013. http://luar-negeri.kompasiana.com. Sabah Picu Perang Indonesia Malaysia Masa-depan. Diakses pada Minggu, 29 September 2013. Pukul 20:45 WIB
[11] Ibid
[12] Ibid
[13] Ibid
[14] Oxford University Press. 2010. Exploring Psychology Study and Revision Guide for AS Level AQA A. Proof Copy. P.24
[15] Kosmopolitanism dalam HI
[16]  Oxford University Press. 2010. Exploring Psychology Study and Revision Guide for AS Level AQA A. Proof Copy. P.28