Konflik
perebutan wilayah kekuasaan sepertinya menjadi permasalahan yang tidak lagi
asing dalam fenomena Internasional masa kini. Contoh paling dekat yang bisa
kita lihat adalah konflik yang terjadi di wilayah regional kita sendiri. Belum
lama ini, konflik persengkataan perebutan Pulau Sipadan dan Ligitan menjadi isu
paling hangat di kawasan Asia Tenggara yang pada akhirnya dimenangkan oleh
Malaysia setelah dibawa ke pengadilan Internasional. Menyusul kemudian konflik
perebutan kepulauan Senkaku oleh Jepang dan China pada setahun yang silam.
Belakangan. isu yang sedang hangat adalah peyerangan kesultanan Sulu terhadap
Malaysia atas penguasaan wilayah Sabah. Belum lagi konflik Laut Cina Selatan
yang dipermasalahkan oleh negara-negara Jepang, Cina, dan beberapa negara ASEAN
termasuk Indonesia. Sepertinya permasalahan wilayah kekuasaan antar negara akan
terus- menerus berkelanjutan.
Jika
melihat sekilas kemasa lalu, dunia Internasional pada masa kini terasa jauh
lebih aman dan lebih membaik jika dibandingkan dengan kondisi dunia puluhan
tahun yang lalu. Terjadinya berbagai konflik pada saat perang dunia I, yang
kemudian berimbas pada konflik Perang Dunia II, dan terakhir diikuti dengan
Perang Dingin (Cold War) yang terjadi mulai tahun 1945-1989. Pada saat-saat
itu, semua negara berkompetesi untuk memperoleh keadidayaan negaranya. Perang
yang terjadi dimana-mana merupakan sesuatu hal yang wajar dan harus dilalui
untuk mencapai suatu kejayaan. Maka tidak heran kalau dunia pada kondisi masa
lampau terlihat begitu kacau.
Setiap
manusia terlahir dengan salah satu sifat dasarnya tidak mau puas dan selalu
ingin mendapatkan lebih dari yang ia sudah miliki. Ia akan terus berusaha
mencari kebutuhan dan keinginan hidupnya dan berkompetisi dengan orang lain
untuk mecapai kepuasannya tersebut. Itu merupakan sifat dasar dari manusia.
Demikian
juga halnya dengan negara yang merupakan sekumpulan dari manusia secara
institusi dipersatukan didalamnya. Dalam tingkatan yang lebih tinggi, negara
berada di dalam dunia Internasional yang tidak berdiri sendiri dan berdampingan
dengan negara lain, bekerjasama, bahkan juga bersaing dengan negara lainnya.
Sebagai makhluk sosial, tentu harus melakukan kerjasama dengan orang lain,
namun sebagai makhluk yang harus berevolusi (Teori Darwin) setiap negara harus
berkompetisi untuk bertahan hidup. Kesejahteraan (welfare), kekuasaan (power),
dan kedaulatan (soverignty) adalah sasaran utama yang ingin dicapai oleh setiap
negara di dunia Internasional. Bagaimana caranya adalah dengan memaksimalkan
potensi yang ada, mengolah Sumber Daya Manusia (SDM) dan juga yang tidak kalah
penting adalah mengolah Sumber Daya Alam yang ada. SDA seringkali menjadi
pemicu konflik dalam suatu wilayah baik itu pada zaman dahulu, maupun zaman
modern saat ini.
Gepolitik
adalah bagaimana kondisi fisik secara geografi mempengaruhi berbagai aktivitas
politik di wilayah tersebut. Seperti suhu, cuaca, lingkungan, dan SDA. Rudolf
Kjellen dalam bukunya The Word Geopolitics mengatakan The state
tends to grow in mass and size and there the effort to expand to over
territorry is possible. Bahwa negara itu cenderung berusaha untuk
melakukan suatu ekspansi wilayah dalam kelangsungan hidup negaranya
ditengah-tengah persaingan banyaknya negara yang ada. Selain itu, Friederich
Razzel dalam bukunya Organistic theory of the state mengatakan bahwa negara itu
tidak berbeda dengan makhluk hidup yang membutuhkan asupan dalam melangsungkan
hidupnya. Adupan yang dimaksud adalah wilayah teritorial dan juga Sumber Daya
Alam (SDA). Kjellen merupakan salah satu pencetus teori Geopolitik Klasik.
Maka
bukanlah sesuatu hal yang mengherankan jika negara saat ini masih melakukan
ekspansi wilayah karena memang selain bagian dari sifat dasar dari manusia itu
untuk bertahan hidup, negara-negara masa kini telah terdoktrin dengan konsep
geopolitik klasik yang mengatakan bahwa untuk kelangsungan hidup negara
haruslah mencari SDA baik yang ada di darat maupun dilaut bahkan melakukan
ekspansi kewilayah negara lain. Hal itu sangat didukung oleh penganut paham
geopolitik klasik. Pada era kontemporer ini bentuk geopolitik yang dilakukan
adalah kerjasama antar negara maupun antar regional. Karena asupan negara yang
sebenarnya itu bukan saja terdapat di Sumber Daya Alam (SDA), tetapi menyangkut
banyak hal seperti perekonomian, budaya, pendidikan, dan bentuk-bentuk lain
yang bisa diperkuat dengan cara kerjasama (cooperation) anatar negara. Konsep
ekspansi wilayah, fokus pada SDA, dan yang dahulunya diakhiri dengan perang
sebenarnya merupakan konsep/pemikiran yang kuno yang tidak seharusnya lagi
untuk dilakukan saat ini. Belum lagi hadirnya globalisasi membuat semuanya
seolah tidak ada batasan secara nyata karena dengan kemajuan berbagai teknologi
dengan cepat akan ditemukan potensi suatu wilayah dan dengan cepat pula bisa
berada disana.
Pada
masa kontemporer seperti yang dapat kita lihat dan rasakan saat ini,
bentuk-bentuk geopolitik yang dilakukan adalah dengan cara-cara politik yang
lebih lemah (low politic), yakni berwujud pada kerjasama-kerjasama
(cooperation) yang tidak selalu berujung pada konflik (military). Misalnya
seperti kerjasama regional ASEAN, hubungan bilateral yang berujung pada eksport
dan impor, dan masih banyak bentuk lainnya. Namun kalau kritisi lebih dalam,
sebenarnya geopolitik yang terjadi saat ini masih sama dengan geopolitik klasik
karena motifnya adalah sama, yakni kesejahteraan negara dan kedaulatan negara
yang berujung pada power suatu negara. Maka tidak heran kalau saat ini kita
lihat Malaysia sudah beberapa kali melakukan klaim daerah negara lain
sebagai kekuasaannya. Selain pernah melakukan klaim atas dua pulau
negara kita, Malaysia juga mengekspansi wilayah Sabah yang dimiliki oleh
Kesultanan Sulu, Filiphina Selatan. Alasan satu-satunya adalah Sumber Daya Alam
yang tersedia disana. Sama halnya dengan kepuluan Senkaku yang ternyata
memiliki potensi alam yang berlimpah, baru disadari oleh China setelah sekian
lama pulau tersebut diolah oleh Jepang, mereka kemudian mengatakan pulau
tersebut adalah milik mereka. Konflik Laut China Selatan yang menyimpan potensi
ikan dan juga potensi tambang yang baik menjadi rebutan di regional Asia
Tenggara dan negara terdekat belakangan ini.
Beberapa
konflik terdekat yang kita bahas diatas menunjukkan bahwa SDA masih menjadi
alasan dari negara untuk melakukan ekpansi. Tidak ada perbedaan dengan masa
lalu dengan konsep geopolitik klasik. Negara (state) saat ini terlihat
seolah-olah seperti “macan” yang menyeramkan, dimana selain mendapatkan makanan
(mangsa), juga disegani oleh para pemangsa lainnya. Geopolitik di era
kontemporer ternyata di praktekkan dengan pemikiran dan wujud yang masih
klasik. Hanya saja ada bentuk-bentuk baru yang lebih soft seperti
bentuk-bentuk kerjasama tertentu. Bentuk klasik dan konflik itu sendiri
masihlah menjadi alat peraga dalam hubungannnya secara Internasional.
Apa
yang menjadi pelajaran sebenarnya bukan tentang permasalahan apakah itu
geopolitik klasik ataupun geopolitik yang modern. Tetapi bagaimana kita sebagai
negara dunia ketiga, negara yang masih berkembang mampu bertahan dalam kondisi
global yang harus bertahan dalam kondisi geopolitik yang masih terjadi.
Bagaimana caranya adalah totalitas dari kesatuan unsur negara kita untuk
komitmen bersama-sama membangun bangsa dan negara kita. Tingkatkan mutu semua
bidang. Bukan hanya pemerintah yang berperan, tetapi semua pihak bersama-sama
dalam bidangnya, baik itu pendidikan, pertanian, perairan, sipil, ekonomi,
keamanan, dan semuanya harus saling komitmen. Waspada, perkuat pertahanan, dan
bekerjasama satu sama lain. Dengan kesatuan yang utuh, niscaya negara kita
mampu bertahan dan menang di era geopolitik di zaman globalisasi ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar