Kamis, 20 Juni 2013

Waspada Geopolitik Klasik di Era Kontemporer

            Konflik perebutan wilayah kekuasaan sepertinya menjadi permasalahan yang tidak lagi asing dalam fenomena Internasional masa kini. Contoh paling dekat yang bisa kita lihat adalah konflik yang terjadi di wilayah regional kita sendiri. Belum lama ini, konflik persengkataan perebutan Pulau Sipadan dan Ligitan menjadi isu paling hangat di kawasan Asia Tenggara yang pada akhirnya dimenangkan oleh Malaysia setelah dibawa ke pengadilan Internasional. Menyusul kemudian konflik perebutan kepulauan Senkaku oleh Jepang dan China pada setahun yang silam. Belakangan. isu yang sedang hangat adalah peyerangan kesultanan Sulu terhadap Malaysia atas penguasaan wilayah Sabah. Belum lagi konflik Laut Cina Selatan yang dipermasalahkan oleh negara-negara Jepang, Cina, dan beberapa negara ASEAN termasuk Indonesia. Sepertinya permasalahan wilayah kekuasaan antar negara akan terus- menerus berkelanjutan.
            Jika melihat sekilas kemasa lalu, dunia Internasional pada masa kini terasa jauh lebih aman dan lebih membaik jika dibandingkan dengan kondisi dunia puluhan tahun yang lalu. Terjadinya berbagai konflik pada saat perang dunia I, yang kemudian berimbas pada konflik Perang Dunia II, dan terakhir diikuti dengan Perang Dingin (Cold War) yang terjadi mulai tahun 1945-1989. Pada saat-saat itu, semua negara berkompetesi untuk memperoleh keadidayaan negaranya. Perang yang terjadi dimana-mana merupakan sesuatu hal yang wajar dan harus dilalui untuk mencapai suatu kejayaan. Maka tidak heran kalau dunia pada kondisi masa lampau terlihat begitu kacau.
            Setiap manusia terlahir dengan salah satu sifat dasarnya tidak mau puas dan selalu ingin mendapatkan lebih dari yang ia sudah miliki. Ia akan terus berusaha mencari kebutuhan dan keinginan hidupnya dan berkompetisi dengan orang lain untuk mecapai kepuasannya tersebut. Itu merupakan sifat dasar dari manusia.
            Demikian juga halnya dengan negara yang merupakan sekumpulan dari manusia secara institusi dipersatukan didalamnya. Dalam tingkatan yang lebih tinggi, negara berada di dalam dunia Internasional yang tidak berdiri sendiri dan berdampingan dengan negara lain, bekerjasama, bahkan juga bersaing dengan negara lainnya. Sebagai makhluk sosial, tentu harus melakukan kerjasama dengan orang lain, namun sebagai makhluk yang harus berevolusi (Teori Darwin) setiap negara harus berkompetisi untuk bertahan hidup. Kesejahteraan (welfare), kekuasaan (power), dan kedaulatan (soverignty) adalah sasaran utama yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia Internasional. Bagaimana caranya adalah dengan memaksimalkan potensi yang ada, mengolah Sumber Daya Manusia (SDM) dan juga yang tidak kalah penting adalah mengolah Sumber Daya Alam yang ada. SDA seringkali menjadi pemicu konflik dalam suatu wilayah baik itu pada zaman dahulu, maupun zaman modern saat ini.
            Gepolitik adalah bagaimana kondisi fisik secara geografi mempengaruhi berbagai aktivitas politik di wilayah tersebut. Seperti suhu, cuaca, lingkungan, dan SDA. Rudolf Kjellen dalam bukunya The Word Geopolitics mengatakan The state tends to grow in mass and size and there the effort to expand to over territorry is possible. Bahwa negara itu cenderung berusaha untuk melakukan suatu ekspansi wilayah dalam kelangsungan hidup negaranya ditengah-tengah persaingan banyaknya negara yang ada. Selain itu, Friederich Razzel dalam bukunya Organistic theory of the state mengatakan bahwa negara itu tidak berbeda dengan makhluk hidup yang membutuhkan asupan dalam melangsungkan hidupnya. Adupan yang dimaksud adalah wilayah teritorial dan juga Sumber Daya Alam (SDA). Kjellen merupakan salah satu pencetus teori Geopolitik Klasik.
            Maka bukanlah sesuatu hal yang mengherankan jika negara saat ini masih melakukan ekspansi wilayah karena memang selain bagian dari sifat dasar dari manusia itu untuk bertahan hidup, negara-negara masa kini telah terdoktrin dengan konsep geopolitik klasik yang mengatakan bahwa untuk kelangsungan hidup negara haruslah mencari SDA baik yang ada di darat maupun dilaut bahkan melakukan ekspansi kewilayah negara lain. Hal itu sangat didukung oleh penganut paham geopolitik klasik. Pada era kontemporer ini bentuk geopolitik yang dilakukan adalah kerjasama antar negara maupun antar regional. Karena asupan negara yang sebenarnya itu bukan saja terdapat di Sumber Daya Alam (SDA), tetapi menyangkut banyak hal seperti perekonomian, budaya, pendidikan, dan bentuk-bentuk lain yang bisa diperkuat dengan cara kerjasama (cooperation) anatar negara. Konsep ekspansi wilayah, fokus pada SDA, dan yang dahulunya diakhiri dengan perang sebenarnya merupakan konsep/pemikiran yang kuno yang tidak seharusnya lagi untuk dilakukan saat ini. Belum lagi hadirnya globalisasi membuat semuanya seolah tidak ada batasan secara nyata karena dengan kemajuan berbagai teknologi dengan cepat akan ditemukan potensi suatu wilayah dan dengan cepat pula bisa berada disana.
            Pada masa kontemporer seperti yang dapat kita lihat dan rasakan saat ini, bentuk-bentuk geopolitik yang dilakukan adalah dengan cara-cara politik yang lebih lemah (low politic), yakni berwujud pada kerjasama-kerjasama (cooperation) yang tidak selalu berujung pada konflik (military). Misalnya seperti kerjasama regional ASEAN, hubungan bilateral yang berujung pada eksport dan impor, dan masih banyak bentuk lainnya. Namun kalau kritisi lebih dalam, sebenarnya geopolitik yang terjadi saat ini masih sama dengan geopolitik klasik karena motifnya adalah sama, yakni kesejahteraan negara dan kedaulatan negara yang berujung pada power suatu negara. Maka tidak heran kalau saat ini kita lihat Malaysia sudah beberapa kali melakukan klaim daerah negara lain sebagai kekuasaannya. Selain pernah melakukan klaim atas dua pulau negara kita, Malaysia juga mengekspansi wilayah Sabah yang dimiliki oleh Kesultanan Sulu, Filiphina Selatan. Alasan satu-satunya adalah Sumber Daya Alam yang tersedia disana. Sama halnya dengan kepuluan Senkaku yang ternyata memiliki potensi alam yang berlimpah, baru disadari oleh China setelah sekian lama pulau tersebut diolah oleh Jepang, mereka kemudian mengatakan pulau tersebut adalah milik mereka. Konflik Laut China Selatan yang menyimpan potensi ikan dan juga potensi tambang yang baik menjadi rebutan di regional Asia Tenggara dan negara terdekat belakangan ini.
            Beberapa konflik terdekat yang kita bahas diatas menunjukkan bahwa SDA masih menjadi alasan dari negara untuk melakukan ekpansi. Tidak ada perbedaan dengan masa lalu dengan konsep geopolitik klasik. Negara (state) saat ini terlihat seolah-olah seperti “macan” yang menyeramkan, dimana selain mendapatkan makanan (mangsa), juga disegani oleh para pemangsa lainnya. Geopolitik di era kontemporer ternyata di praktekkan dengan pemikiran dan wujud yang masih klasik. Hanya saja ada bentuk-bentuk baru yang lebih soft seperti bentuk-bentuk kerjasama tertentu. Bentuk klasik dan konflik itu sendiri masihlah menjadi alat peraga dalam hubungannnya secara Internasional.
            Apa yang menjadi pelajaran sebenarnya bukan tentang permasalahan apakah itu geopolitik klasik ataupun geopolitik yang modern. Tetapi bagaimana kita sebagai negara dunia ketiga, negara yang masih berkembang mampu bertahan dalam kondisi global yang harus bertahan dalam kondisi geopolitik yang masih terjadi. Bagaimana caranya adalah totalitas dari kesatuan unsur negara kita untuk komitmen bersama-sama membangun bangsa dan negara kita. Tingkatkan mutu semua bidang. Bukan hanya pemerintah yang berperan, tetapi semua pihak bersama-sama dalam bidangnya, baik itu pendidikan, pertanian, perairan, sipil, ekonomi, keamanan, dan semuanya harus saling komitmen. Waspada, perkuat pertahanan, dan bekerjasama satu sama lain. Dengan kesatuan yang utuh, niscaya negara kita mampu bertahan dan menang di era geopolitik di zaman globalisasi ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar